JARINGAN KOMPUTER

Posted: November 21, 2008 in APLIKOM

JARINGAN KOMPUTER

JARINGAN komputer adalah sebuah kumpulan komputer, printer dan peralatan lainnya
yang terhubung dalam satu kesatuan. Informasi dan data bergerak melalui kabel-kabel
atau tanpa kabel sehingga memungkinkan pengguna jaringan komputer dapat saling bertukar dokumen dan data, mencetak pada printer yang sama dan bersama-sama
menggunakan hardware/software yang terhubung dengan jaringan. Setiap komputer,
printer atau periferal yang terhubung dengan jaringan disebut node. Sebuah jaringan
komputer dapat memiliki dua, puluhan, ribuan atau bahkan jutaan node.

Jenis-Jenis Jaringan Komputer
Secara umum jaringan komputer dibagi atas lima jenis, yaitu ;

1. Local Area Network (LAN)
Local Area Network (LAN), merupakan jaringan milik pribadi di dalam sebuah gedung
atau kampus yang berukuran sampai beberapa kilometer. LAN seringkali digunakan
untuk menghubungkan komputer-komputer pribadi dan workstation dalam kantor
suatu perusahaan atau pabrik-pabrik untuk memakai bersama sumberdaya (resouce,
misalnya printer) dan saling bertukar informasi.

2. Metropolitan Area Network (MAN)
Metropolitan Area Network (MAN), pada dasarnya merupakan versi LAN yang
berukuran lebih besar dan biasanya menggunakan teknologi yang sama dengan LAN.
MAN dapat mencakup kantor-kantor perusahaan yang letaknya berdekatan atau juga
sebuah kota dan dapat dimanfaatkan untuk keperluan pribadi (swasta) atau umum.
MAN mampu menunjang data dan suara, bahkan dapat berhubungan dengan jaringan
televisi kabel.

3. Wide Area Network (WAN)
Wide Area Network (WAN), jangkauannya mencakup daerah geografis yang luas,
seringkali mencakup sebuah negara bahkan benua. WAN terdiri dari kumpulan mesinmesin
yang bertujuan untuk menjalankan program-program (aplikasi) pemakai.

4. Internet
Sebenarnya terdapat banyak jaringan didunia ini, seringkali menggunakan perangkat
keras dan perangkat lunak yang berbeda-beda . Orang yang terhubung ke jaringan
sering berharap untuk bisa berkomunikasi dengan orang lain yang terhubung ke
jaringan lainnya. Keinginan seperti ini memerlukan hubungan antar jaringan yang
seringkali tidak kampatibel dan berbeda. Biasanya untuk melakukan hal ini diperlukan
sebuah mesin yang disebut gateway guna melakukan hubungan dan melaksanakan
terjemahan yang diperlukan, baik perangkat keras maupun perangkat lunaknya.
Kumpulan jaringan yang terinterkoneksi inilah yang disebut dengan internet.

5. Jaringan Tanpa Kabel
Jaringan tanpa kabel merupakan suatu solusi terhadap komukasi yang tidak bisa
dilakukan dengan jaringan yang menggunakan kabel. Misalnya orang yang ingin
mendapat informasi atau melakukan komunikasi walaupun sedang berada diatas
mobil atau pesawat terbang, maka mutlak jaringan tanpa kabel diperlukan karena
koneksi kabel tidaklah mungkin dibuat di dalam mobil atau pesawat. Saat ini jaringan
tanpa kabel sudah marak digunakan dengan memanfaatkan jasa satelit dan mampu
memberikan kecepatan akses yang lebih cepat dibandingkan dengan jaringan yang
menggunakan kabel.

KROMATOGRAFI

Posted: November 20, 2008 in ARTIKEL

KROMATOGRAFI
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Ada banyak teknik pemisahan tetapi kromatografi merupakan teknik paling banyak digunakan. Kromatografi merupakan metode pemisahan yang sederhana. Kromatografi mencakup berbagai proses yang berdasarkan pada perbedaan distribusi dari penyusunan cuplikan antara dua fasa.
Satu fasa tetap tinggal pada system dan dinamakan fasa diam. Fasa lainnya dinamakan fasa gerak menyebabkan perbedaan migrasi dari penyusun cuplikan. Prosedur kromatografi masih dapat digunakan, jika metode klasik tidak dapat dilakukan karena jumlah cuplikan rendah, kompleksitas campuran yang hendak dipisahkan atau sifat berkerabat zat yang dipisah.
Kromatografi ada bermacam-macam diantaranya kromatografi kertas, kromatografi lapis tipis, penukar ion, penyaringan gel dan elektroforesis.
Asam-asam amino yang terdapat dalam protein adalah asam ? – amino karboksilat. Asam amino ada yang larut dalam air dan tidak larut dalam pelarut organic. Asam amino yang tidak dapat dibuat oleh tubuh disebut asam amino essensial dan ada juga asam amino yang dapat dibuat oleh tubuh disebut asam amino nonessensial.

1.2. Tujuan

- Menghitung Rf asam amino yang sudah diketahui.
– Dalam penelitian suatu sampel asam amino yang belum diketahui namanya dapat dianalisa dengan menghitung nilai Rf.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Suatu analisis kimia menjadi meragukan jika pengukuran sifat tidak berhubungan dengan sifat spesifik senyawa terukur. Analisis meliputi pengambilan cuplikan, pemisahan senyawa pengganggu, isolasi senyawa yang dimaksudkan, pemekatan terlebih dahulu sebelum identifikasi dan pengukuran. Banyak teknik pemisahan tetapi kromatografi merupakan teknik paling banyak digunakan. Kromatografi pertama kali diberikan oleh Michael Tswett, seorang ahli botani Rusia, pada tahun 1906.
Kromatografi berasal dari bahasa Yunani ‘Kromatos’ yang berarti warna dan ‘Graphos’ yang berarti menulis. Kromatografi mencakup berbagai proses yang berdasarkan pada perbedaan distribusi dari penyusun cuplikan antara dua fasa. Satu fasa tinggal pada system dan dinamakan fasa diam. Fasa lainnya, dinamakan fasa gerak, memperkolasi melalui celah-celah fasa diam. Gerakan fasa menyebabkan perbedaan migrasi dari penyusun cuplikan.
Macam-macam kromatografi
a. Kromatografi Lapis Tipis
Yaitu kromatografi yang menggunakan lempeng gelas atau alumunium yang dilapisi dengan lapisan tipis alumina, silika gel, atau bahan serbuk lainnya. Kromatografi lapis tipis pada umumnya dijadikan metode pilihan pertama pada pemisahan dengan kromatografi.
b. Kromatografi Penukar Ion
Merupakan bidang khusus kromatografi cairan-cairan. Seperti namanya, system ini khusus digunakan untuk spesies ion. Penemuan resin sintetik dengan sifat penukar ion sebelum perang Dunia II telah dapat mengatasi pemisahan rumit dari logam tanah jarang dan asam amino.
c. Kromatografi Penyaringan Gel
Merupakan proses pemisahan dengan gel yang terdiri dari modifikasi dekstran-molekul polisakarida linier yang mempunyai ikatan silang. Bahan ini dapat menyerap air dan membentuk susunan seperti saringan yang dapat memisahkan molekul-molekul berdasarkan ukurannya. Molekul dengan berat antara 100 sampai beberapa juta dapat dipekatkan dan dipisahkan. Kromatografi permeasi gel merupakan teknik serupa yang menggunakan polistirena yang berguna untuk pemisahan polimer.
d. Elektroforesis
Merupakan kromatografi yang diberi medan listrik disisinya dan tegak lurus aliran fasa gerak. Senyawa bermuatan positif akan menuju ke katode dan anion menuju ke anoda. Sedangkan kecepatan gerak tergantung pada besarnya muatan.
e. Kromatografi Kertas
Merupakan kromatografi cairan-cairan dimana sebagai fasa diam adalah lapisan tipis air yang diserap dari lembab udara oleh kertas jenis fasa cair lainnya dapat digunakan. Teknik ini sangat sederhana.
Prinsip dasar kromatografi kertas adalah partisi multiplikatif suatu senyawa antara dua cairan yang saling tidak bercampur. Jadi partisi sutu senyawa terjadi antara kompleks selulosa-air dan fasa mobil yang melewatinya berupa pelarut organik yang sudah dijenuhkan dengan air atau campuran pelarut.
Cara melakukannya, ciplikan yang mengandung campuran yang akan dipisahkan diteteskan/diletakkan pada daerah yang diberi tanda di atas sepotong kertas saring dimana ia akan meluas membentuk noda yang bulat. Bila noda telah kering kertas dimasukkan dalam bejana tertutup yang sesuai dengan satu ujung, dimana tetesan cuplikan ditempatkan, tercelup dalam pelarut yang dipilih sebagai fasa bergerak (jangan sampai noda tercelup karena berarti senyawa yang akan dipisahkan akan terlarut dari kertas).
Pelarut bergerak melalui serat dari kertas oleh gaya kapiler dan menggerakkan komponen dari campuran cuplikan pada perbedaan jarak dalam arah aliran pelarut. Bila permukaan pelarut telah bergerak sampai jarak yang cukup jauhnya atau setelah waktu yang telah ditentukan, kertas diambil dari bejana dan kedudukan dari permukaan pelarut diberi tanda dan lembaran kertas dibiarkan kering. Jika senyawa-senyawa berwarna maka mereka akan terlihat sebagai pita atau noda yang terpisah. Jika senyawa tidak berwarna harus dideteksi dengan cara fisika dan kimia. Yaitu dengan menggunakan suatu pereaksi-pereaksi yang memberikan sebuah warna terhadap beberapa atau semua dari senyawa-senyawa. Bila daerah dari noda yang terpisah telah dideteksi, maka perlu mengidentifikasi tiap individu dari senyawa. Metoda identifikasi yang paling mudah adalah berdasarkan pada kedudukan dari noda relatif terhadap permukaan pelarut, menggunakan harga Rf.
Harga Rf merupakan parameter karakteristik kromatografi kertas dan kromatografi lapis tipis. Harga ini merupakan ukuran kecepatan migrasi suatu senyawa pada kromatogram dan pada kondisi konstan merupakan besaran karakteristik dan reprodusibel.
Harga Rf didefinisikan sebagai perbandingan antara jarak senyawa dari titik awal dan jarak tepi muka pelarut dari titik awal.
Rf = Jarak titik tengah noda dari titik awal
Jarak tepi muka pelarut dari titik awal

Ada beberapa faktor yang menentukan harga Rf yaitu:
1. Pelarut, disebabkan pentingnya koefisien partisi, maka perubahan-perubahan yang sangat kecil dalam komposisi pelarut dapat menyebabkan perubahan-perubahan harga Rf.
2. Suhu, perubahan dalam suhu merubah koefisien partisi dan juga kecepatan aliran.
3. Ukuran dari bejana, volume dari bejana mempengaruhi homogenitas dari atmosfer jadi mempengaruhi kecepatan penguapan dari komponen-komponen pelarut dari kertas. Jika bejana besar digunakan, ada tendensi perambatan lebih lama, seperti perubahan komposisi pelarut sepanjang kertas, maka koefisien partisi akan berubah juga. Dua faktor yaitu penguapan dan kompisisi mempengaruhi harga Rf.
4. Kertas, pengaruh utama kertas pada harga Rf timbul dari perubahan ion dan serapan, yang berbeda untuk macam-macam kertas. Kertas mempengaruhi kecepatan aliran juga mempengaruhi kesetimbangan partisi.
5. Sifat dari campuran, berbagai senyawa mengalami partisi diantara volume-volume yang sama dari fasa tetap dan bergerak. Mereka hampir selalu mempengaruhi karakteristik dari kelarutan satu terhadap lainnya hingga terhadap harga Rf mereka.
Protein merupakan poliamida dan hidrolisis protein menghasilkan asam-asam amino. Hanya dua puluh asam amino yang lazim dijumpai oleh protein tumbuhan dan hewan. Namun ke-20 asam amino ini dapat digabungkan menurut berbagai cara, membentuk otot, urat, kulit, kuku, hemoglobin, enzim, antibody dan banyak hormon.
Asam-asam amino yang terdapat dalam protein adalah asam ?-amino karboksilat. Variasi dalam struktur monomer-monomer ini terjadi dalam rantai samping.
COOH
Gugus ?-amino H2N- C- H
R Variasi struktur terjadi dalam rantai samping

Asam amino tersederhana adalah asam aminoasetat (H2NCH2COOH) yang disebut glisin, yang tidak memiliki rantai samping, karena itu tidak mengandung satu karbon kiral. Semua asam amino lain memiliki rantai samping dan kertas itu karbon ?-nya bersifat kiral.
Asam amino larut dalam air dan tidak larut dalam pelarut organik non polar seperti eter, aseton dan kloroform. Sifat asam amino berbeda dengan asam karboksilat maupun dengan sifat amina. Asam karboksilat alifatik maupun aromatik yang terdiri dari beberapa atom karbon umumnya kurang larut dalam air tetapi larut dalam pelarut organik. Amina pada umumnya tidak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut organik.
Berdasarkan struktur rantai sampingnya, asam amino dibagi dalam 7 kelompok, yaitu:
1. Merupakan rantai karbon yang alifatik
2. Mengandung gugus hidroksil
3. Mengandung atom belerang
4. Mengandung gugus asam dan amidanya
5. Mengandung gugus basa
6. Mengandung gugus atau cincin aromatik
7. Membentuk ikatan dengan atom N pada gugus amino
Beberapa fungsi asam amino disamping untuk sintesis protein dan produksi energi:
a. Alanin, Prekursor glukogenik, pembawa N dari jaringan permukaan untuk ekskresi N.
b. Aspartat, biosintesis urea, prekursor glukogenik, prekursor pirimidin.

c. Sistein, prekursor taurin (untuk konjugasi asam empedu dan fungsi lain), pereduksi.
d. Glutamat, pereduksi antara dalam reaksi interkonversi asam amino, neutransmiter ?-aminobutirat, sumber NH3.
e. Glutamin, donor-grup amino untuk banyak reaksi non asam amino, pembawa N (lebih mudah melewati membran daripada glutamat, sumber NH3.
f. Glisin, prekursor biosintesis purin, neotransmitter.
g. Histidin, prekursor histamin.
h. Lisin, untuk crosslinking protein (seperti pada kolagen dan elastin), biosintesis karnitin.
i. Metionin, donor grup metil untuk banyak proses sintetik, prekursor sistein.
j. Fenil alanin, prekursor tirosin dan melalui tirosin, juga prekursor katekolamin, DOPA, melanin dan tiroksin.
k. Serin, komponen fosfolipid, prekursor sfingolipid, prekursor etanolamin dan kolin.
l. Triptofan, prekursor serotonin, prekursor nikotinamid (vitamin B).

Asam amino yang tidak dapat dibuat dalam tubuh disebut asam amino essensial dan harus diperoleh dari makanan sumber protein. Asam amino yang dapat dibuat dalam tubuh disebut asam amino non essensial.
Semua vertebrae, termasuk manusia dapat membentuk 12 macam asam amino yang secara nutrisi non essensial dari senyawa antara amfibolik atau dari asam amino lain yang ada dalam makanan. Vertebrae tidak dapat melakukan biosintesis 10 asam amino yang secara nutrisi essensial. Vertebrae melakukan biosintesis asam amino dari senyawa antara amfibolik lewat lintasan metabolic yang meliputi 5 atau kurang reaksi yang dikatalisis oleh enzim.
Reaksi untuk asam amino
Pada asam amino, gugus (-COOH) dan (-NH2)nya masing-masing dapat bereaksi, missal dengan pembentukkan garam, esterifikasi dan asilasi. Reaksi umum untuk menunjukkanadanya asam amino adalah reaksi ninhidrin. Ninhidrin adalah suatu oksidator yang menyebabkan dekarboksilasioksidatif dari asam alfa amino, menghasilkan CO2, NH3 dan aldehid yang rantai Cnya lebih pendek satu atom C daripada asam amino asalnya.
Ninhidrin yang tereduksi kemudian bereaksi dengan NH3 yang dibebaskan membentuk senyawa kompleks berwarna biru dengan absorpsi warna maksimum pada panjang gelombang 570 nm. Cara ini dapat dipakai untuk mengukur kadar asam amino.
Senyawa asam amino, kecuali asam amino dapat memberi reaksi ninhidrin positif, tetapi tanpa pembentukkan CO2 asam-asam amino aromatis, seperti triptofan, tirosin, histidin dan fenil alanin menyerap sinar ultraviolet. Serapan sinar ultraviolet oleh protein kebanyakan ditentukan oleh kandungan triptofannya.
Bermacam-macam asam amino dapat diidentifikasi dengan reaksi warna khusus, karena reaksi warna khusus ini positif untuk gugus tertentu pada rantai R-nya bukan untuk gugus (-COOH) ataupun (-NH2)nya.
Reaksi warna tersebut ialah:
No Asam amino Reaksi petunjuk Reaksi positif bila terjadi warna
1 Arginin Sakaguchi Merah
2 Sistein Nitropussid dan Sullivan Merah
3 Histidin Pauly Merah
4 Triftopan Hopkins cole Ungu
Ehrlich Biru
5 Tirosin Pauly Merah
Millon-Nasse Merah
Folin-Ciocalteu Merah
6 Fenil alanin Santo Protein Kuning

BAB III
METODE PERCOBAAN

3.1. Alat
– Beker glass
– Gelas ukur
– Kertas kromatografi
– Lidi
– Lemari kromatografi
– Pipet tetes
– Penggaris
– Semprotan

3.2. Bahan
– Asam asetat
– Asam butanol
– Aquades
– Triptofan
– Alanin
– Glisin
– Serin
– Campuran (Triptofan, Alanin, Glisin, serin)
– Ninhidrin

3.3. Cara Kerja
a. Penjenuhan kertas kromatografi
– Disiapkan beker glass lalu diisi dengan asam butanol sebanyak 25 ml, asam asetat 5 ml dan air 25 ml. Pelarut asam amino ini semuanya 55 ml.
– Disiapkan kertas kromatografi dan diberi garis dasar dengan jarak 1,5 cm dari tepi bagian bawah kertas lalu dibuat 5 titik pada garis tersebut dengan pensil.
– Kertas kromatografi dijepit dengan lidi dan dimasukkan ke dalam beker glass yang berisi pelarut tetapi bagian bawah kertas tidak boleh mengenai pelarut
– Kertas didiamkan selama ± 2 jam, bagian atas beker glass ditutup agar pelarut tidak terlalu banyak menguap keluar dan kertas menjadi jenuh.
b. Penentuan kelarutan Asam amino
– Kertas kromatografi yang sudah dijenuhkan diangkat
– Disiapkan sampel yang akan dipisahkan
– Ditotolkan sampel yang ingin dipisahkan pada kertas kromatografi. Tiap sampel diteteskan sebanyak 4 tetes pada titik yang sama
– Setelah sampel ditotolkan, kertas kromatografi dimasukkan ke dalam beker glass berisi pelarut dengan bagian bawah menyentuh pelarut. Didiamkan sampai pelarut tidak lagi merembes ke atas
– Kertas kromatografi dianginkan, noda sampel terakhir ditandai dengan pensil, kertas dipanaskan selama ± 5-10 menit
– Disemprot kertas kromatografi dengan ninhidrin dan dipanaskan lagi
– Diukur noda dari titik awal
c. Menghitung nilai Rf
– Diukur jarak pelarut dari garis dasar hingga titik akhir pelarut tidak merembes lagi
– Diukur jarak tiap sampel dari garis dasar
– Dihitung nilai Rf
Rf = Jarak yang ditempuh sampel dari garis dasar
Jarak yang ditempuh pelarut dari garis dasar

Sampel Jarak Tempuh
Sampel (Cm) Jarak Tempuh
Pelarut (Cm)

Triptofan

Alanin

Glisin

Serin

Campuran 5

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Pengamatan

Sampel Jarak Tempuh
Sampel (Cm) Jarak Tempuh
Pelarut (Cm)

Triptofan

Alanin

Glisin

Serin

4.2. Pembahasan
Dari data pengamatan dapat dilihat triptofan memiliki jarak paling jauh dibandingkan dengan asam-asam amino lainnya, sedangkan serin memiliki jarak yang paling dekat. Ini dikarenakan asam butanol bersifat semi polar tetapi lebih cenderung ke non polar, asam asetat bersifat polar dan air bersifat sangat polar, sehingga setelah ke- 3 pelarut ini dicampur dengan perbandingan 5 : 2 : 5 maka larutannya akan menjadi bersifat semi polar.
Pada glisin dan serin jarak yang ditempuh tidak terlalu jauh dari garis dasar dikarenakan glisin dan serin bersifat polar, karena kertas merupakan fase diam yang didalamnya mengandung selulosa yang banyak mengandung gugus OH maka yang sifatnya sama akan tertahan.
Untuk serin yang memiliki jarak paling dekat, ini dikarenakan rantai samping serin adalah gugus OH yang bersifat sangat polar. Karena memiliki OH maka sifatnya sama dengan fasa diam atau fasa stasioner, inilah yang menyebabkan air tertahan di kertas.
Untuk alanin dan triftopan memiliki sifat non polar, berbeda dengan kertas yang bersifat polar, sehingga jarak tempuhnya jauh. Rantai samping triptofan mempunyai sifat non polar, maka sisi non polar bergerak terus mengikuti gerak pelarut atau terikut oleh fase gerak, karena itu triptofan memiliki jarak yang paling jauh.
Pada sampel campuran jarak tempuhnya hampir sama dengan triftopan, karena di dalam sampel campuran ini ada triptofannya yang mempunyai kecendrungan bergerak mengikuti pelarut.
Dari kelima sampel yang membedakan jauh atau dekatnya jarak yang ditempuh tergantung dari kecendrungan gugus non polar mengikuti pelarut.
Rumus struktur asam-asam amino yang digunakan sebagai sampel:
CH3 – CH – COOH
NH2
2- amino asam propanoat
* Alanin *

CH2 – CH – COOH H – CH – COOH
OH NH2 NH2
2- amino-3- hidroksi asam propanoat Amino asam asetat
* Serin * * Glisin *
Warna biru yang terdapat pada kertas kromatografi, setelah disemprot dengan ninhidrin dan dikeringkan merupakan reaksi antara ninhidrin dengan asam amino yang menghasilkan hidrindantin dan kemudian ninhidrin bereaksi dengan hidrindantin dan ammonia.
Reaksi:

Sebelum digunakan kertas kromatografi dijenuhkan terlebih dahulu, hal ini dilakukan agar pelarut atau uap pelarut yang digunakan akan tersangkut atau tertahan pada kertas kromatografi.
Untuk nilai Rf didapatkan dari perbandingan antara jarak yang di tempuh oleh sampel dari garis dasar dengan jarak yang ditempuh oleh pelarut dari garis dasar.
Rf = Jarak yang ditempuh sampel dari garis dasar
Jarak yang ditempuh pelarut dari garis dasar

Nilai Rf dari asam amino yang sudah diketahui, dapat membantu kita menganalisa suatu asam amino yang belum diketahui namanya dengan cara membandingkan nilai Rf nya.
Triptofan termasuk asam amino esensial, sehingga tidak dapat dibuat oleh tubuh dan harus mendapat pasokan dari luar yaitu melalui makanan. Triptofan merupakan asam amino heterosiklik yang mula-mula diperoleh dari hasil pencernaan kasein oleh cairan pancreas. Sedangkan alanin, glisin dan serin merupakan asam amino non esensial yang dapat dibuat oleh tubuh, sehingga tidak memerlukan pasokan dari luar tubuh karena yang dibuat oleh tubuh sudah mencukupi untuk kebutuhan dalam tubuh.
Glisin adalah asam amino yang paling sederhana dan terdapat pada skleroprotein. Alanin adalah semua asam amino, kecuali glisin dapat dianggap sebagai derivat alanin. Serin merupakan asam amino yang mempunyai gugus alcohol diperoleh dari hasil hidrolisis gelatin

BAB V
PENUTUP

5.1. Kesimpulan
– Prinsip dasar kromatografi terdistribusi jadi fase diam dan fase gerak.
– Pelarut yang terdiri dari (asam asetat, asam butanol dan aquades) merupakan fasa gerak, sedangkan asam-asam aminonya merupakan fasa stasioner (diam).
– Penjenuhan kertas kromatografi bertujuan agar pelarut yang digunakan tertahan di kertas.
– Jauh atau dekatnya jarak tempuh suatu sampel tergantung dari sifat polar dan non polar rantai sampingnya yang mengikuti pelarut.
– Triptofan mempunyai jarak terjauh yaitu 5 cm, alanin 2,4 cm, glisin 1,7 cm, dan yang terdekat adalah serin dengan jarak 1,6 cm, campuran mempunyai jarak yang hampir sama dengan triptofan yaitu 4,2 cm karena campuran mengandung triptofan.
– Pereaksi ninhidrin digunakan sebagai pereaksi yang menghasilkan warna biru untuk memudahkan identifikasi suatu senyawa berdasarkan pada kedudukan dari noda relatif terhadap permukaan pelarut menggunakan harga Rf.
– Nilai Rf didapat dari perbandingan jarak antara yang ditempuh oleh sampel dari garis dasar dengan jarak yang ditempuh oleh pelerut dari garis dasar.
– Untuk mengetahui asam amino yang belum diketahui namanya dapat dianalisa dengan membandingkan nilai Rf dari asam amino yang sudah diketahui namanya.

Rumus Struktur Serin :

HOCH2CHCO2H

NH2

Rumus Struktur Triplofan :

Reaksi Ninhidrin + Asam Amino :

Reaksi Ninhidrin + NH3 + Asam Amino :

R – CH – COOH + Ninhidrin teroksidasi ?
NH2 R – CH + NH3 + CO2 + Ninhidrin tereduksi
O

+ NH3 +

Ninhidrin teroksidasi Ninhidrin tereduksi

N = + 3 H2O

Produk berwarna biru

Tambahan Pembahasan
Karena gula atau keton bebas mereduksi kuproksida menjadi kaprioksida sehingga benedict menghasilkan bermacam-macam warna.

Reaksi glukosa + Benediot

+ +


<!–
google_ad_client = “pub-7659153469404382″;
google_ad_type = “text”;
google_ad_channel = “”;
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
google_language = “en”;
google_ad_format = “468x60_as”;
google_color_border = “336699”;
google_color_bg = “FFFFFF”;
google_color_link = “336699”;
google_color_url = “FF8C00″;
google_color_text = “000000”;
//–>

CIRI MAHKLUK HIDUP

Posted: November 6, 2008 in ARTIKEL

Ciri-Ciri Makhluk Hidup

Seperti Manusia, Hewan Dan Tumbuhan – Syarat Mahluk / Benda Hidup Biologi

Untuk dikatakan sebagai benda hidup, makhluk hidup atau organisme diperlukan pemenuhan ciri-ciri sebagai berikut di bawah ini :
1. Terdapat Protoplasma
Protoplasma merupakan suatu bagian yang terdiri atas bahan yang kompleks dan terlindung dengan baik. Protoplasma biasa dikenal dengan sebutan sel. Berbeda dengan benda tak hidup atau benda mati yang tidak memiliki protoplasma. Lihat saja batu atau komputer yang tidak memiliki protoplasma atau sel, sehingga disebut dengan benda mati.
2. Mempunyai Bentuk dan Ukuran
Makhluk hidup dapat dikenali ciri khas yang menempel padanya dengan melihat bentuknya. Antara jenis mahluk hidup yang satu dengan yang lain memiliki perbedaan baik dalam ukuran maupun bentuknya. Tengok saja antara pohon jamblang dengan pohon teh, pasti terlihat jelas bedanya.
3. Melakukan Aktivitas-Aktifitas Kehidupan :
- Makan
Semua benda hidup membutuhkan asupan bahan makanan yang berasal dari luar tubuh untuk kemudian diproses menjadi energi atau tenaga bagi tubuh.- Tumbuh Dan Berkembang
Orang, Binatang dan Tumbuh-Tumbuhan ketika baru lahir atau tumbuh ukurannya akan lebih kecil dan biasanya akan berkembang menjadi lebih besar menyerupai induknya.- Berkembang Biak
Makhluk hidup yang tidak mampu berkembangbiak menghasilkan keturunan akan punah dan musnah di makan waktu. Oleh sebab itu makhluk hidup memiliki cara masing-masing untuk dapat memperbanyak diri untuk mempertahankan keberadaan di dunia.

- Melakukan Adaptasi
Semua makhluk hidup perlu melakukan penyesuain diri dengan fungsi tubuh dan lingkungan sekitar ekosistem, habitat tempat tinggalnya untuk dapat bertahan hidup dengan lebih baik dan mudah. Contohnya seperti hewan gurun yang tahan panas, bunglong bisa berubah warna, dan lain sebagainya.

- Memiliki Sistem Transportasi
Untuk menyampaikan zat ke bagian-bagian yang membutuhkan.

- Dapat Bergerak
Manusia dan hewan memerlukan kegiatan dengan menggerakkan anggota tubuh untuk berbagai keperluan seperti jalan, makan, menggaruk, berkedip, dan sebagainya. Untuk tumbuhan tidak semuanya dapat melakukan pergerakan. Kemampuan untuk bereaksi terhadap rangsangan dari lingkungan disebut dengan istilah iritabilita.

- Metabolisme
Metabolisme adalah aktifitas fisika atau kimia yang terjadi di dalam tubuh baik secara anabolisme maupun katabolisme.

- Sistem Regulasi
Pengertian arti definisi sistem regulasi adalah aturan sistem yang ada di dalam tubuh makhluk hidup untuk dapat hidup seimbang, serasi dan selaras.

TRUE FRIEND

Posted: November 6, 2008 in POEM

TRUE FRIEND

Nobody can stand here on earth..

We need something to lean on or something to hold on..

We need someone to share our secret.. tell our fear..

someone to cheers us up when we are down…

And those are times when only a friend could do

B’coz friend is a place for caring,,sharing,,loving,,

A true friend is someone who always be there for you

Never leave you alone in the dark

Catch you when you fall

A true friend is a person with whom you dare to be yourself

B’coz friend don’t expect you to be perfect

Friends knows exactly who you really are

So,you don’t have to pretend

A friend is the only one allowed to say ” I TOLD YOU SO “

it’s always amazing what a friend can forgive

B’coz people like to make mistake

and MAKING MISTAKE is HUMAN,, NOT MAKING MISTAKE is DIVINE..

but UNFORGIVING is HUMANNUSS…

friendship is LOVE WITH UNDERSTANDING

friendship IS THE GRAETEST BOND IN THE WORLD

we who have friends are wrapped around with joy

there is nothing in the universe can replace a friendship…

NOT MONEY,,,, NOT POWER,,, NOT BEAUTY,,, NOT POSSESSIONS or FAME….

FRIENDS ARE ALL THAT MATTER…

ANALISIS SPERMA

Posted: April 13, 2010 in Uncategorized

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Spermatozoa adalah sel gamet jantan yang merupakan sel yang sangat terdeferensiasi, satu-satunya sel yang memilki jumlah sitoplasma yang terperas dan nyaris habis. Strukturnya sangat khusus untuk mengakomodasikan fungsinya. Fungsi spermatozoa ada dua, yaitu mengantarkan material genetis jantan ke betina dan fungsi kedua adalah mengaktifkan program perkembangan telur.

Analisis sperma dilakukan untuk mengetahui bagaimana tahapan proses pembuahan, pewaktuan setiap tahapan pembuahan, dan dapat menentukan rasio spermatozoa dan ovum dalam pembuahan. Ikan nilem adalah ikan yang memenuhi persyaratan. Persyaratannya adalah :

  1. Proses pembuahan yang terjadi di luar tubuh ikan nilem betina.
  2. Terdapat pada ikan atau katak.
  3. Hewan yang mudah disadap telur maupun sperma masaknya.
  4. Mudah dibedakan antara jantan dan betina.
  5. Telurnya bersifat transparan.
  6. Mudah dioviposisikan.
  7. Siklus hidup ikan nilem pendek
  8. Telur maupun sperma yang dihasilkan setiap siklus reproduksi cukup banyak.

Praktikum  kali ini menggunakan sperma dari ikan nilem (Osteochillus hasselti) dengan alasan karena ikan nilem mudah didapatkan, ukuran tidak terlalu besar, murah, sehat dan produk telurnya relatif tinggi. Pemeriksaan sperma ikan nilem ini dapat diaplikasikan terhadap spesies lain, misal pada ikan mas, ikan paus, atau pada clasiss clasiss lain.

Analisis sperma yang dimaksud meliputi pemeriksaan jumlah milt yang dapat distriping dari seekor ikan jantan masak kelamin, kekentalan sperma, warna, bau, jumlah spermatozoa hidup, jumlah spermatozoa mati, motilitas, morfologi (ukuran dan bentuk kepala, ukuran ekor, berbagai penyimpangan).

B. TUJUAN

Tujuan praktikum analisis spermatozoa ikan nilem adalah menentukan kualitas dan kuantitas sperma ikan nilem (Osteochillus hasselti) baik secara makroskopis maupun mikroskopis.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Osteochillus hasselti adalah suatu jenis ikan yang hidup di air tawar, baik sungai, rawa-rawa, kolam maupun danau. Nama Indonesia untuk Osteochillus hasselti adalah ikan nilem, milem, lehat, mangut, regis, muntu, palau, assang dan penupu karet. Ikan nilem dapat tumbuh dan berkembang dengan baik pada ketinggian 500-800 m dp dan lebih menyukai pada perairan air jernih, mengalir dengan dasar berpasir atau berbatuan kecil-kecil. Ikan dewasa berukuran dari 100 gram hingga 200 gram (Partodiharjo, 1990).

Sistem genital ikan nilem berfungsi untuk perkelaminan, organ utamanya adalah gonad. Gonad jantan disebut dengan testis dan sepasang yang didalamnya terbentuk spermatozoid. Tiap-tiap testis berhubungan dengan ductus diferentia yang pendek, kemudian bagian belakangnya bersatu dan bermuara di porus urogenital (Djuhanda, 1981).

Ikan jantan masak kelamin setelah berumur kurang lebih 8 bulan. Berat testis lebih ringan dibandingkan berat ovarium pada ikan yang sama umurnya, tetapi panjangnya dapat dikatakan sama. Kedua testis dapat dihasilkan sekitar 1-1,5 ml milt (dalam keadaan ejakulasi alami), tetapi pada striping paling banyak diperoleh 1 ml milt (Soeminto, 2008).

Testis ikan nilem berbentuk memanjang atau berlobi. Spermatozoa dari testis lewat ductules efferentes masuk kedalam ductus longitudinal testis. Ductus ini berkelok-kelok (konvoluntes) dan ujung anteriornya sering ditetapkan sebagai epididimis ( Jamieson, 1991). Bagian posteriornya mengalami dilatasi (membesar)  membentuk vesikula seminalis. Kedua vesikula seminal masuk kedalam sinus urogenital dan langsung berhubungan dengan kloaka lewat suatu jendela (orifisae) pada ujung papilla urogenital (Soeminto, 2008).

Saluran spermatozoa pada jantan teleostei pada gonad mirip  seperti saluran telur pada betina. Lipatan peritoneum membungkus suatu bagian rongga solom, yang menghubungkan gonad diwakili oleh sejumlah saluran yang saling berhubungan yang susunannya lebih kompleks dibanding yang betina. Saluran ini bukan duktus eferen yang sebenarnya. Hubungan dengan duktus archinefrik tersusun sebelah posterior opistonefros, tetapi kedua saluran ini pada teleostei memiliki penyaluran yang terpisah (Soeminto, 2008).

Sperma ikan terdiri dari tiga komponen utama yaitu kepala, leher dan ekor. Kepalanya terutama terdiri dari suatu nukleus padat yang dimahkotai dengan akrosom kecil berbentuk bulan sabit. Akrosomnya mengandung sejumlah enzim hidrolitik dan dianggap berperan dalam penembusan telur oleh spermatozoa (Paxton, 1986). Kelulusan seksual jantan yang primer dan sekunder, tergantung pada hormon testis dan testosteron (Djuhanda, 1981).

Ekor sperma terdiri atas tiga bagian yaitu middle piece, principal piece dan end piece. Ekor ini berfungsi untuk pergerakan menuju sel telur. Ekor yang motil itu pada pusatnya sama seperti flagellum memiliki struktur axoneme yang terdiri atas mikrotubul pusat dikelilingi oleh Sembilan doblet mikrotubul yang berjarak sama satu dengan yang lainnya. Daya yang dihasilkan mesin ini memutar ekor bagaikan baling-baling dan memungkinkan sperma meluncur dengan cepat. Keberadan mesin pendorong ini tentunya membutuhkan bahan bakar yang paling produktif yaitu gula fruktosa yang telah tersedia dalam bentuk cairan yang melingkupi sperma (Anonim, 2006).

Spermatozoa abnormal merupakan spermatozoa berbentuk lain dari biasa, terdapat baik pada individu fertil maupun infertil. Hanya saja pada individu fertil kadarnya lebih sedikit. Bentuk abnormal terjadi karena berbagai gangguan dalam spermatogenesis. Gangguan itu mungkin karena faktor hormonal, nutrisi, obat, akibat radiasi, atau oleh penyakit (Yatim, 1992). Bentuk sperma dibawah ini adalah bentuk sperma yang abnormal menurut Jauhari (2005):

  1. Makro  : Ukuran kepalanya lebih besar dari ukuran kepala normal.
  2. Mikro  : Ukuran kepala lebih kecil dari ukuran kepala normal.
  3. Taper   : Spermanya kurus, lebar kepalanya setengah dari kepala normal, tidak jelas batas akrosom
  4. Piri       : tidak jelas adanya kepala nyata, tampak midpiece dan ekor saja.
  5. Amorf : Bentuk kepala ganjil, permukaan tidak rata, tidak jelas batas akrosom.
  6. Round : Bentuk kepala seperti lingkaran, tidak menunjukkan akrosom.
  7. Cytoplasmic droplet : menempel pada kepala, warna lebih erah.
  8. Ekor abnormal : ekornya pendek/ spiral/ permukaan tidak halus/ ganda.

Kepala spermatozoa bentuknya bervariasi. Isinya adalah inti (di dalamnya terkandung material genetik) haploid yang berupa kantong berisi sekresi-sekresi enzim hidrolitik. Spermatozoa yang kontak dengan telur, isi akrosomnya dikeluarkan secara eksositosis yang disebut dengan reaksi akrosom (Sistina, 2000).

Pengamatan mikroskopis sperma diantaranya adalah penghitungan jumlah spermatozoa. Jumlah spermatozoa motil atau non-motil dapat dihitung dengan menggunakan bilik hitung (hemositometer). Hemositometer merupakan gelas objek yang memiliki kotak-kotak berukuran (Yatim, 1992).

III. MATERI DAN METODE

A. Materi

Alat yang digunakan dalam praktikum adalah mikroskop cahaya, bilik hitung (hemositometer), gelas obyek, gelas penutup, pH indicator/kertas pH, gelas pengaduk, kertas tissue, bak preparat, cawan Petri, spuit injeksi tanpa jarum dan pipet tetes.

Bahan yang digunakan dalam praktikum adalah sperma Ikan Nilem jantan (Osteochillus hasselti ♂) yang telah masak, larutan methanol, larutan giemsa, larutan ringer dan aquades.

B. Metode

1. Cara Stripping

a)         Ikan dipegang dengan bagian dorsal ada di bawah dan bagian ventral menghadap ke atas,

b)        Tangan kanan menutupi kepala, sedangkan tangan kiri menyangga ekor.

c)         Bagian lubang urogenital dilap dengan tisu

d)        Abdomen ikan diurut dari anterior ke arah posterior menuju lubang urogenital hingga pada lubang tersebut keluar cairan berwarna putih susu (milt)

e)         Milt yang keluar langsung disedot dengan menggunakan spuit injeksi tanpa jarum.

2. Volume

a)         Milt ikan nilem yang tertampung pada spuit injeksi di ukur volumenya dengan langsung membaca skalanya.

3. Warna

Diamati secara visual dengan latar belakang warna putih.

4. Bau

Dibaui dengan cara dikipas-kipaskan dengan tangan, jangan dihirup langsung.

5. pH

Derajat keasaman (pH) diukur dengan menggunakan kertas pH, dengan cara mencelupkan kertas pH kedalam sampel sperma, diamkan beberapa saat, kemudian cocokkan perubahan warna yang terjadi dengan tabel.

6.  Cara pengenceran milt

a)                            Sampel sperma diambil 1 ml dimasukkan di dalam cawan

b)   Larytan ringer sebanyak 9 ml dicampurkan ke dalam cawan (perbandingan antara sampel dengan larutan pengenceran harus selalu 1:9)

c)    Diaduk-aduk dengan menggunakan batang pengaduk sampai benar-benar homogen

d)   Sperma yang sudah diencerkan ini merupakan sperma dengan pengenceran 10 kali

e)    Sperma pengenceran 10x diambil dengan menggunakan spuit yang lain sebanyak 1 ml dimasukkan ke dalam cawan yang berbeda

f)                             Larutan ringer 9 ml dicampurkan ke dalam sperma tersebut

g)   Sperma dengan pengenceran dua kali ini, merupakan sperma dengan pengenceran 100x

h)   Pengenceran dilakukan lagi untuk mendapatkan sperma dengan pengenceran 1000x dan 10.000x

7.  Motilitas Spermatozoa

a)                      Milt yang sudah diencerkan 1000x diambil dengan menggunakan pipet tetes

b)                      Milt diteteskan di atas objek glass

c)                      Ditetesi dengan aquades, kemudian di homogenkan

d)                     Ditutup dengan cover glass dan diamati dengan menggunakan mikroskop

e)                      Bergerak atau tidak bergerak, ditentukan presentase motilitasnya.

8. Menghitung jumlah total spermatozoa

a)                            Milt yang sudah diencerkan 10000x diambil dengan menggunakan pipet tetes

b)   Diteteskan di bilik hitung Haemocytometer yang sudah ditutup dengan cover glass melalui sela-sela paritnya

c)    Hitung jumlah sperma menggunakan lima kotak sedang di dalam kotak besar yang di bagian tengah

d)                           Jumlah total spermatozoa dihitung dengan Rumus :

S     total spermatozoa = (Rata-rata 5 kotak sedang x pengenceran x 2,5.105) sel/ml.

9. Morfologi sperma

a)    Sediaan preparat apus spermatozoa dibuat dengan cara; Meneteskan sperma (pengenceran 100x)pada objek glass yang lain, yang diberdirikan dengan sudut 300. Tetesan sperma diratakan dengan menyorongkan gelas objek lain tadi menjauhi titik tetesan tersebut.

b)                            Apusan spermatozoa dibiarkan kering udara selama 5 menit

c)                            Difiksasi dengan larutan eter alkohol (1:1), selama 5 menit

d)                           Ditetesi dengan pewarna larutan Giemsa (pengenceran 20x), selama 30 menit

e)                            Dibiarkan kering udara

f)                             Dicuci dengan air mengalir

g)                            Dibiarkan kering udara

h)                            Amati dengan menggunakan mikroskop, spermatozoa dicari

i)                              Spermatozoa normal dan spermatozoa abnormal digambar

j)                              Hitung spermatozoa pada 5 lapang pandang yang berbeda

k)                            Presentase sperma normal dan abnormal ditentukan.


IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

  1. Warna                   : Putih susu.
  2. Bau                       : Amis
  3. Volume                : 0.1 ml
  4. pH                        : 7
  5. Motalitas              : a. Sperma motil 0%

b. Sperma non motil 100%

Tabel 1. Akumulasi Data Pengamatan Motilitas Spermatozoa Rombongan VI

K1 K2 K3 K4 K5 Rata-rata
Persentase sperma

motil (%)

40 0 0 0 10
Persentase sperma non motil (%) 60 100 100 100 90
Keterangan:
K = Kelompok
  1. Jumlah total spermatozoa

Tabel 2. Akumulasi Data Pengamatan Σ Total Spermatozoa Rombongan VI

K1 K2 K3 K4 K5 Rata-rata
Σ total spermatozoa 7,8 x 109 2,145 x 1010 2,38 x 1010 1,88 x 1010 - 3,48 x 1010

Keterangan :

K = Kelompok

Perhitungan :

K I       = 85

K II     = 76

K III    = 142

K IV    = 32

K V     = 41           +

Jumlah             = 376

Ditanya           : Jumlah Spermatozoa / ml

Rumus             : X = K I + K II + K III + K IV + K V x 2,5 x 105 (1000)

5

Jawab              : X = K I + K II + K III + K IV + K V x 2,5 x 105 (1000)

5

= 85 + 76 + 142 + 32 + 41 x 2,5 x 105 (1000)

5

= 376 x 2,5 x 105 (1000)

= 1,88 x 1010 sel/ml

B. Pembahasan

Bau sperma yang normal adalah khas, tajam, tidak busuk. Bau itu berasal dari oksidasi spermin yang dihasilkan prostat. Semen normal tampak berwarna putih kelabu dan baunya seperti bunga akasia, dan hasil dari praktikum kali ini semen ikan berwarna putih susu dan berbau amis, jadi bisa dikatakan sample semen ikan ini mendekati normal. Semen yang berbau busuk diduga disebabkan oleh suatu infeksi. Dalam keadaan normal, semen mencair dalam 60 menit pada suhu kamar. Bau yang tidak khas mani, prostate tidak aktif atau ada gangguan. Mungkin gangguan itu pada saluran atau kelenjar sendiri. Bau busuk oleh adanya infeksi (Yatim, 1992).

Setelah diamati penampilannya, dilanjutkan dengan pengukuran volume semen. Volume semen diukur dengan cara menghisap semen yang keluar dengan spuit injeksi. Menurut Hora dan Pillay (1962), ukuran spermatozoa pada ikan teleostei berkisar 40-60 µm, dengan produksi spermatozoa yang cukup tinggi dan rata-rata volume milt yang dihasilkan satu ekor ikan nilem ±0,5 ml dengan jumlah spermatozoa 3,33×1011, pada ikan nilem yang diujikan didapat volume 0,1 ml. Volume normal semen pada ikan nilem sekali diejakulasi sekitar 2,0 sampai 3,0 ml, ada juga yang sampai 4,5 ml. Jika volume kurang dari 1 ml, ada kemungkinan tak beresnya prostate dan vesicula seminalis yang merupakan penghasil utama plasma semen (Anonim, 1988). Sperma pada ikan kemungkinan tidak hidup pada plasma. Sperma dilepaskan pada lingkungan akuatik, osmosis menurun (pada spesies air tawar) dan motilitas sperma dimulai (Maria et al., 2006).

Warna sperma hasil striping pada ikan nilem (Osteochillus hasselti) adalah putih susu, hal ini menunjukkan bahwa sperma ikan nilem yang digunakan pada praktikum adalah sehat. Umumnya semen berwarna krem keputih-putihan atau hampir seputih susu. Derajatnya keputihnya atau kekeruhannya sebagian besar tergantung pada konsentrasi spermanya. Semakin keruh biasanya jumlah sperma per ml semen itu semakin banyak. Semen yang berwarna hijau kekuning-kuningan biasanya banyak mengandung kuman Pseudomonas auroginosa yang menandakan adanya peradangan yang kronis dalam saluran reproduksinya. Semen yang berwarna merah atau kemerah-merahan menandakan bahwa semen itu mengandung sedikit atau banyak darah (Partodiharjo, 1990).

Bila berwarna coklat atau kecoklat-coklatan menandakan bahwa semen itu mengandung darah yang telah rusak atau busuk. Adakalanya semen itu berwarna kream tua sampai kuning, warna ini disebabkan oleh banyaknya jumlah pigmen riflavin yang menurut banyak pendapat tidak mempunyai peranan apa-apa terhadap spermatozoa maupun terhadap kesuburan semen itu (Partodiharjo, 1990).

Semen yang normal mempunyai pH antara 7,2-7,8. pH lebih dari 8 menunjukkan adanya radang akut kelenjar kelamin atau epididymis. pH kurang dari 7,2 menunjukkan adanya penyakit kronis pada kelenjar atau epididymis. pH rendah sekali menunjukkan adanya gangguan atau aplasia pada vesicular seminalis atau ductus ejaculatorius. pH dapat berubah satu jam sesudah ejakulasi (Yatim, 1992). Sperma ikan nilem yang diamati menunjukkan pH 7.

Morfologi spermatozoa pada ikan berbeda dengan manusia. Manusia memiliki spermatozoa yang berkepala lonjong (dilihat dari atas) dan piriform (dilihat dari samping). Lebih tebal dekat leher dan menggepeng ke ujung. Kepala 4-5 mikro meter panjang dan 2,5-3,5 mikro meter lebar. Panjang ekor seluruhnya sekitar 55 mikro meter dan tebalnya berbeda, dari 1 mikro meter dekat pangkal ke 0,1 mikro meter dekat ujung (Anonymous, 2006). Sedangkan ikan memiliki spermatozoa yang berflagelata dan tak berakrosoma. Spermatozoa hasil suspensi testis keadaanya sama dengan spermatozoa hasil striping. Kepala berbentuk bulat, dengan diameter sekitar 2,86-0,16 mikro meter, panjang sekitar 25,86 mikro meter. Pada pangkal flagella ada bangunan seperti cincin, annulus (Jamieson, 1991). Praktikum kali ini mendapatkan hasil bahwa sperma mati semua.

Perhitungan motilitas spermatozoa ikan nilem diperoleh jumlah spermatozoa yang motil adalah 0%, sedangkan jumlah spermatozoa yang non motil adalah 100%. Penggunaan hemocytometer untuk menentukan jumlah spermatozoa dalam semen menurut pendapat terbaru dianggap kurang praktis, karena kecuali memerlukan sedikit keahlian dalam menghisab juga memerlukan waktu dalam menghitung dengan mikroskop. Sperma yang diteteskan di atas kotak hemocytometer ditutup dan dihitung, hasilnya dicatat misalnya y. Y ini adalah jumlah sel-sel spermatozoa yang mati dan yang terlihat tidak bergerak dalam kotak-kotak. Spermatozoa yang tidak bergerak belum tentu mati (Partodiharjo, 1990). Hasil perhitungan jumlah spermatozoa rata-rata adalah 1,88×1010 spermatozoa/ml semen.

Pewarnaan sperma untuk keperluan pengamatan morfologi tidak terikat hidup matinya sperma, seperti pada pewarnaan hidup matinya sperma. Sel spermatozoa yang normal dengan dimensi umum, seekor spermatozoa secara sitologi terbagi atas kepala dan ekor. Ekor terbagi menjadi bagian tengah atau leher, bagian utama dan bagian ujung. Ciri-ciri sel spermatozoa yang normal adalah :

  1. Kepala.

Bentuk   : bulat lonjong, gepeng.

Dimensi : tebal : 1-2 mikron; panjang : 9 mikron.

  1. Leher

Bentuk   : bulat, pendek.

Dimensi : garis tengah 1 mikron; panjang 13 mikron.

  1. Ekor.

Bentuk   : bulat, panjang.

Dimensi : garis tengah 0.25-0.5 mikron. Bagian ujung mungkin bergaris tengah kurang dari 0.25 mikron, panjang 44-50 mikron (Partodiharjo,1990).

Banyak macam bentuk spermatozoa yang abnormal yang mungkin dapat dilihat. Bentuk abnormal dapat dibedakan antara bentuk abnormal yang primer dan bentuk abnormal yang sekunder. Bentuk abnormal primer berasal pada gangguan testes, mungkin karena memang cacat. Bentuk abnormal sekunder biasanya berasal dari perlakuan setelah semen itu meninggalkan testes, misalnya mendapat kocokan yang keras dalam tabung penampung, dikeringkan terlalu cepat, dipanaskan dengan temperature terlalu tinggi, pengesekan yang tidak berhati-hati ketika membuat sedian, dsb (Partodihajo, 1990). Bentuk morfologi spermatozoa yang diamati tidak terlihat bagian ekor maupun kepala dan tubuhnya.

V.  KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan sebelumnya maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

  1. Warna sperma hasil striping pada ikan nilem (Osteochillus hasselti) adalah putih susu, hal ini menunjukkan bahwa sperma ikan nilem yang digunakan pada praktikum adalah sehat.
  2. Hasil pemeriksaan sperma menunjukkan bau langu, berarti sperma yang dihasilkan normal, prostat aktif dan tidak ada infeksi.
  3. Volume hasil striping adalah 0,1 ml.
  4. Sperma ikan nilem yang diamati menunjukkan pH 7, berarti sperma tersebut dalam keadaan normal.
  5. Perhitungan motilitas spermatozoa ikan nilem diperoleh jumlah spermatozoa yang motil adalah 0%, sedangkan jumlah spermatozoa yang non motil adalah 100%.
  6. Hasil perhitungan jumlah spermatozoa rata-rata adalah 18,8 x 1010 spermatozoa/ml semen.
  7. Spermanya diprediksi akan menghasilkan tingkat fertilisasi yang rendah.
  1. B. Saran

Praktikum analisis sperma ini membutuhkan ketelitian dalam menghitung jumlah sperma dalam bilik hitung. Jangan terlalu lama dalam melihat sperma dengan mikroskop, karena sperma hanya mampu bertahan selama 1 menit apabila berada di luar tubuh yang dapat menyebabkan sperma menjadi mati.

DAFTAR REFERENSI

Almquist, J. O & E. B. Hale., 1956. An Approach to the Measurement of sexual Behavior and Semen Production in Dairy Bulls, III Internat. Congr. On Anim. Reprod.,Cambridge.

Anonim, 1988. Penuntun Laboratorium WHO untuk Pemeriksaan Semen Manusia dan Interaksi Semen Getah Serviks. Balai Penerbit FKUI, Jakarta.

Anonim. 2006. Mesin Canggih Berbahan Bakar Gula. Dikutip dari http://www.harunyahya.com. Diakses pada tanggal 25 November 2009

Djuhanda, T. 1981. Embrio Perbandingan. C.V. Armico, Bandung.

Jamieson, Barrie GM. 1991. Fish Evolution and Sistematics : Evidence from Spermatozoa. Cambridge University Press, Cambridge

Jauhari, M.A. 2005. Penyediaan Induk dan Benih Bermutu serta Teknik Pembesaran Ikan. Direktorat Jendral Perikanan Budidaya Balai Budidaya Air Tawar, Sukabumi.

Maria, A. N et al., 2006. Effects Of Cooling and Freezing On Sperm Motility Of The Endangered Fish Pirajancuba Brycon Orbygnyanus (Characiformes, Characidae). Animal Science Departement, Brazil

Partodiharjo, Soebadi. 1990. Ilmu Reproduksi Hewan. Mutiara Sumber Widya, Surabaya.

Paxton, M. J. W. 1986. Endocrinology, Biologycal and Medical Prespective. Wm. C.

Brown Publisher, Dubuque, Iowa.

Sistina, Yulia. 2000. Biologi Reproduksi. Fakultas Biologi Unsoed, Purwokerto

Soeminto. 2008. Buku dan Penunjuk Praktikum Struktur dan Perkembangan Hewan II. Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto.

Toelihere, M. R. 1975. Phisiology of Reproduction and Artificial Insemination of Water Buffaloes. Food and fertilizer technology center for the Asian and Pasific Region ( ASPAC). 116 Huai Ning Street Taipei Taiwan, Replubic of China.

Wernick, A. C., T. N. Meacham, T. J. Cunha, P. E. Ringgins, J. F. Hentges Jr. & R.L. Shirley. 1961. Effect of Source and Level of Nitrogen on Semen Production and Libido in Rams, Proc. IV. Internat. Congr. On Anim.

Reprod., Hague.

Yatim, W. 1992. Reproduksi dan Embriologi. Tarsito, Bandung.

DESKRIPSI

Cymbopogon citratus (DC.) Stapf

Serai Dapur

Habitus serai dapur (Cymbopogon citratus) berupa tanaman tahunan (parennial) yang hidup secara meliar dan stolonifera (berbatang semu) yang membentuk rumpun tebal dengan tinggi hingga mencapai 1 – 2 meter, serta mempunyai aroma yang kuat dan wangi. Sistem perakaran tanaman sereh memiliki akar yang besar. Morfologi akarnya merupakan jenis akar serabut yang berimpang pendek dan akarnya berwarna coklat muda (Sastrapradja, 1978).

Batang tanaman sereh bergerombol dan berumbi, serta lunak dan berongga. Isi batangnya merupakan pelepah umbi untuk pucuk dan berwarna putih kekuningan. Tanaman sereh memiliki batang yang berwarna putih, namun ada juga yang berwarna putih keunguan atau kemerahan. Selain itu, batang tanaman sereh juga bersifat kaku dan mudah patah. Batang tanaman ini tumbuh tegak lurus di atas tanah atau condong, membentuk rumpun, pendek, masif, dan bulat (silindris) (Poerwanto, 2010).

Morfologi daun tanaman serai berwarna hijau dan tidak bertangkai. Daunnya kesat, panjang, dan runcing, hampir menyerupai daun ilalang. Selain itu, daun tanaman ini memiliki bentuk seperti pita yang makin ke ujung makin runcing, berbau jeruk limau ketika daunnya diremas, berwarna hijau kebiru-biruan. Daunnya juga memiliki tepi yang kasar dan tajam dan lokos, namun halus pada kedua permukaannya. Berdaun tunggal, lengkap, berpelepah daun silindris, gundul, seringkali bagian permukaan dalam berwarna merah, ujung berlidah (ligula). Tulang daun tanaman sereh tersusun sejajar. Letak daun pada batang tersebar. Panjang daunnya sekitar 50-100 cm, sedangkan lebarnya kira-kira 2 cm. Daging daun tipis, serta pada permukaan dan bagian bawah daunnya berbulu halus. Helainnya lebih dari separuh menggantung (C.A. Backer, et al., 1965).

Susunan bunganya malai atau bulir majemuk, bertangkai atau duduk, memiliki daun pelindung yang nyata, biasanya berwarna sama, umumnya putih. Daun pelindung dapat bermetamorfosis menjadi gluma steril dan fertil (pendukung bunga). Kelopak dapat bermetamorfosis menjadi bagian palea (2 unit) dan lemma atau sekam (1 unit). Sedangkan untuk mahkota dapat bermetamorfosis menjadi 2 kelenjar lodicula, berfungsi untuk membuka bunga di pagi hari. Benang sari sereh dapur berjumlah 3-6, membuka secara memanjang. Putik serai dapur kepala putik sepasang berbentuk bulu, dengan percabangan berbentuk jambul. Buahnya berbentuk buah padi, memanjang, pipih dorso ventral, embrio separo bagian biji. Waktu berbunga Januari – Desember. Namun, tanaman serai jenis ini jarang sekali memiliki bunga. Cymbopogon citratus sangat jarang berbunga sehingga juga sangat jarang menghasilkan buah, bahkan biji. Karena sangat jarang berbunga dan menghasilkan biji maka tanaman ini pada umumnya bereproduksi dengan akar, tidak dengan biji (Anonim, 2010).

Habitat tumbuh pada daerah dengan ketinggian 50 – 2700 M dpl. Tanam pada berbagai kondisi tanah di daerah tropika yang lembab, cukup sinar matahari dan dengan curah hujan yang relatif tinggi. Wilayah Indonesia banyak terdapat di Jawa, ditepi jalan atau dipersawahan. Serai dapur memerlukan iklim yang panas degan cahaya matahari yang banyak dan curah hujan yang cukup. Tidak memerlukan tanah yang subur. Tanah yang berat dan subur, hasil daunnya tinggi, tetapi kadar minyaknya agak rendah (Dalimartha, 1999).

MANFAAT DAN INFORMASI LAIN

(Cymbopogon citratus (DC.) Stapf)

MANFAAT

Menurut Anonim (2010), manfaat tanaman sereh dapur adalah:

1. Daun

ü  Mencuci bau hanyir pada daging

ü  Daun serai yang dibalut dengan besi atau batu panas digunakan untuk tuaman dan bertungku pada kawasan urat saraf yang lemah, penyakit bisa otot-otot, sendi, mengecutkan rahim yang bengkak, memecahkan lendir, darah dan angin.

ü  Daun serai dan jintan hitam digiling untuk di jadikan ‘paste’ untuk ditempel di dahi untuk melegakan sakit kepala. Campuran pada rempah ratus untuk di jadikan ‘paste’ bagi merawat bengkak-bengkak sendi dan otot.

ü  Air rebusan daun serai digunakan untuk air mandian

ü  Sebagai peluruh angin perut, penambah nafsu makan, pengobatan pasca persalinan, penurun panas dan pereda kejang.

2. Akar dan batang

ü Membantu mengobati masalah sakit perut dan memecahkan gumpalan angin serta melepaskan angin melalui dubur (kentut) dan mulut (sendawa).

ü Dapat membantu mengimbangkan kestabilan hormon.

ü Menambah aroma hidangan serta membantu meringankan keadaan keracunan pemakanan.

ü Campuran dengan rempah ratus mempunyai khasiat untuk kesehatan dalam tubuh

ü Membantu melawaskan dan melancarkan pembuangan air kecil

3. Minyak Serai

ü       Kosmetik (Minyak wangi dan sampo)

ü       Obat (Minyak angin, pencegah nyamuk, dan gigitan bisa)

PENDAHULUAN

Serai dapur merupakan salah satu jenis rumput – rumputan yang sudah sejak lama dibudidayakan di Indonesia. Karenanya, jenis ini mempunyai banyak nama daerah, diantaranya ialah sereh, sere, sere gulai, sere sayur, serai dapur dan sebagainya. Nama ilmiahnya ialah Cymbopogon citratus (Sastrapradja, 1978).  Kemungkinan Malaysia dan Sri Langka merupakan tempat asal jenis tanaman ini. Jenis ini telah tersebar di daerah-daerah tropik lainnya dan ditanam untuk minyaknya, terutama di negara-negara Guatemala, Brazil, Hindia Barat, Indo Cina, Kongo, Republik Malagasy dan Tanzania. Setahun 1 hektar tanah dapat menghasilkan rata-rata 30 ton, daun sereh yang dapat disuling untuk diambil minyak serehnya sebanyak 45 – 80 kg (Anonim, 2010).

Tanaman sereh dapat ditanam di pekarangan rumah atau di tegalan. Perawatan hampir tidak diperlukan. Tanaman ini dapat dipanen setelah berumur 4 – 8 bulan. Panen dapat dilakukan dengan cara memotong rumpun dekat tanah, setiap 3 – 4 bulan sampai tanaman berumur 4 tahun. Tumbuh di dataran rendah pada ketinggian 60 – 140 M dpl.

Perbanyakan dapat diperbanyak dengan dilakukan bila tinggi tanaman telah mencapai 1 – 1,5 meter. Pemotongan pertama dilakukan pada umur 6 – 9 bulan. Pemanenan selanjutnya dilakukan selang 3 – 4 bulan (Sastrapradja, 1978).

INFORMASI LAIN

Sereh dapur memiliki aroma khas lemon. Biang keladi aroma tersebut adalah sebuah senyawa bergugus fungsi aldehid, yakni sitral sebagai senyawa utama minyak. Komposisi daun sereh dapur yaitu 0,4% minyak atsiri dengan komponen yang terdiri dari sitral, sitronelol (66-85%), (a-pinen, kamfen, sabinen, mirsen, ß-felandren, p-simen, limonen, cis-osimen, terpinol, sitronelal, borneol, a-terpineol, geraniol, farnesol, metil heptenon, n-desialdehida, dipenten, metil heptenon, bornilasetat, geranilformat, terpinil asetat, sitronelil asetat, geranil asetat, ß-elemen, ß-kariofilen, ß-bergamoten, trans-metilisoeugenol, ß-kadinen, elemol, kariofilen oksida. Pada penelitian lain pada daun ditemukan minyak atsiri 1% dengan komponen utama (+) sitronelol, geranial (lebih kurang 35% dan 20%), disamping itu terdapat pula geranil butirat, sitral, limonen, eugenol, dan metileugenol. Sitronelol hasil isolasi dari minyak atsiri sereh terdiri dari sepasang enansiomer (R)-sitronelal dan (S) sitronelal. Serai mengandungi kandungan sitral sebanyak lebih kurang 65% hingga 85% (Guenter, 1948).

Perkembangbiakan dilakukan dengan sistem bonggol akar pada batang semu (stool). Batang semu yang telah dewasa (minimal terdiri 10 pelepah daun) digunakan sebagai bibit. Satu rumpun sereh dapur yang telah dewasa yang berumur lebih dari 1 tahun dapat menghasilkan bibit di atas 50 batang (Mansur, 1992).

KLASIFIKASI

Menurut Muhlisah (1999), Cymbopogon citratus (DC.) Stapf diklasifikasikan sebagai berikut :

kingdom / Kerajaan                 : Plantae (Tumbuhan)

Sub-Kingdom                                     : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)

Super Divisio                          : Spermatophyta (Menghasilkan biji)

Divisio / Divisi                        : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Classis / Kelas                         : Liliopsida (berkeping satu / monokotil)

Sub-Classis / Anak kelas         : Commelinidae

Ordo / Bangsa                         : Poales

Familia / Famili                       : Poaceae (suku rumput-rumputan)

Genus / Marga                         : Cymbopogon

Species / Jenis                         : Cymbopogon citratus (DC.) Stapf

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2010. Cymbopogon citratus (DC.) Stapf

http://toiusd.multiply.com/journal/item/72/Cymbopogon_citratus

diakses pada tanggal 10 maret 2010

C. A. Backer, D. Sc. And R. C. Backhuizen VandenbrinkJr, Ph.D. 1965. Flora Of Java: Vol. III. Netherland: The Auspices Of The Rijksherbarium

Dalimartha, Setiawan. 1999. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Ungaran : Trubus Agriwidya

Guenter, Ernest, 1948. The Essential Oil Vol. 4 (Minyak Atsiri, terjemahan Ketaren, pokok bahasan Sereh Dapur). UI Press,Jakarta

Mansur, M, IM Tasma, OU Suryana, 1992, Sereh Dapur. Edisi Khusus Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Vol. VIII No. 2, Balitro,Bogor

Muhlisah, Fauziah. 1999. Tanaman Obat Keluarga. Jakarta : Penebar Swadaya.

Poerwanto, Adi. 2009. Tanaman Sereh Solusi Penghangat Tubuh dan Batuk.

http://www.onecenti.co.cc/tanaman-sereh-solusi-penghangat-tubuh-dan-batuk/ Diakses tanggal 10 maret 2010

Sastrapradja, S., dkk. 1978. Tanaman Industri. LIPI. Indonesia

PENGUKURAN HEMATOLOGI

Posted: December 24, 2009 in Uncategorized

PENGUKURAN HEMATOLOGI HEWAN

Oleh:

Nama                 :    Ratna Mega Dwi Pangestuti

NIM                    :    B1J008136

Rombongan      :    V

Kelompok         :    1

Asisten              :    Nailil Fitri

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN I

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

FAKULTAS BIOLOGI

PURWOKERTO

2009

HASIL DAN PEMBAHASAN

  1. A. Hasil

Tabel Data Penghitungan Hematologi Darah Rombongan V

Hewan ∑ Eritrosit

(mm3)

∑ Leukosit

(mm3)

Kadar Hb Angka Hematokrit
Ikan 1.265.000 14525 10 mg/dl 17% , 26 %
Ayam 695.000 1400 8,3 mg/dl 32% , 31%
Mencit 3.885.000 1650 7,8 mg/dl 63% , 68%

Perhitungan :

Preparat Ikan

Haemoglobin = 10 mg/dl

∑ Eritrosit  per mm3 =  E/80 x 4000 x 100

= 5000 x E

=  5000 x (18 + 17 + 20 + 29 + 32)

=  535.000 sel / mm3

∑ Leukosit  per mm3 = 1/64 x 160 x 10

=  25 x L

=  25 x (181 + 200 + 307 + 261)

=  23.725 sel / mm3


B. Pembahasan

Berdasarkan praktikum, penentuan hematokrit dilakukan dengan mengisi tabung hematokrit dengan darah yang sebelumnya telah diberi zat EDTA (natrium ethylen diamin tetra acetic acid) yang berfungsi mencegah penggumpalan darah. Sebelum penghitungan jumlah leukosit, darah diberi larutan Turk yang berfungsi untuk mengencerkan sel darah putih. Sedangkan untuk menghitung jumlah eritrosit, darah diberi larutan Hayem yang berfungsi mengencerkan sel darah merah. Jumlah eritrosit pada ikan yang didapat dari praktikum sebesar 1.265.000 mm3, ini tidak sesuai dengan pustaka karena menurut Oslon (1973), jumlah eritrosit pada ikan adalah 50.000 – 3.000.000 sel / mm3. Jumlah eritrosit ayam yang didapat 695.000 mm3 sedangkan pada ayam betina adalah 2,72 juta sel / mm3 dan pada ayam jantan adalah 3,23 juta sel/mm3. Jumlah leukosit yang didapatkan yaitu 1400 sel/mm3. Jumlah leukosit pada ayam berkisar antara 16.000 – 40.000 sel / mm3 ( Dukes, 1995). Sedangkan pada sel darah ikan 20.000 – 150.000 sel / mm3 (Moyle and Cech, 2001).  Banyaknya sel darah dari hasil praktikum tidak sesuai dengan pustaka, hal ini karena terlalu banyaknya larutan pengencer yang diberikan dan kurangnya ketelitian dalam menghitung jumlah selnya. Jumlah eritrosit menurut Jangueira dan Canneira (1980) adalah antara 50.000-3.000.000 per mm³. Berdasarkan hasil praktikum diperoleh jumlah eritrosit pada ikan adalah sebanyak 1.265.000 sel/mm3. Hal ini menunjukan bahwa ikan dalam percobaan masih dalam keadaan normal. Jumlah leukosit pada ikan didapat sebanyak 14525 sel/mm3, sedangkan menurut Lagler et al. (1977) jumlah leukosit ikan umumnya adalah berkisar antara 20.000-150.000 per mm³. Hal ini menunjukan bahwa ikan yang digunakan dalam praktikum kemungkinan dalam keadaan stress.

Darah adalah matrik cairan dan merupakan jaringan pengikat terspesialisasi yang dibentuk dari sel-sel bebas (Bryon and Doroth, 1973). Darah terdiri dari komponen cair yang disebut plasma dan berbagai unsur yang dibawa dalam plasma yaitu sel-sel darah. Sel-sel darah terdiri dari eritrosit atau sel darah merah, yaitu sel yang mengangkut oksigen, leukosit atau sel darah putih yaitu sel yang berperan dalam kekebalan dan pertahanan tubuh dan trombosit yaitu sel yang berperan dalam homeostasis (Frandson, 1986). Eritrosit mempunyai peran sebagai media transport. Sedangkan leukosit berfungsi sebagai alat pertahanan tubuh sehingga memiliki sifat menembus jaringan tanpa merusak jaringan tersebut (Pearce, 1989). Transport oksigen dalam darah tergantung pada komponen besi dalam pigmen respirasi biasanya haemoglobin. Haemoglobin merupakan bagian dari sel darah merah yang mengikat oksigen. Darah terdiri atas sel-sel dan fragmen-fragmen sel yang terdapat secara bebas dalam medium yang bersifat cair yang disebut plasma darah. Sel-sel dari fragmen sel merupakan unsur darah yang disebut unsur jadi. Sel ini berukuran cukup besar sehingga dapat diamati dengan mikroskop biasa. Plasma darah merupakan bagian yang cair dari darah yang terdiri dari 99 % air dan 8-9 % protein (Kimball, 1988). Darah sangat penting bagi organisme, jika kekurangan atau kelebihan sel darah mengakibatkan tidak normalnya proses fisiologis suatu organisme sehingga menimbulkan suatu penyakit (Pearce, 1989).

Eritrosit merupakan tipe sel darah yang jumlahnya paling banyak dalam darah.  Sebagian besar vertebrata mempunyai eritrosit berbentuk lonjong dan berinti kecuali mamalia (Guyton, 1976).  Eritrosit berbentuk elips, pipih dan bernukleus yang berisi pigmen-pigmen pernafasan yang berwarna kuning hingga merah, yang disebut haemoglobin  yang berfungsi mengangkut oksigen (Frandson, 1992). Jumlah eritrosit sangat bervariasi antara individu yang satu dengan yang lainnya. Jumlah eritrosit diperbanyak apabila terjadi perubahan dan atau pada waktu berada di daerah tinggi dengan tujuan menormalkan pengangkutan O2 ke jaringan (Sugiri, 1988). Jumlah eritrosit dipengaruhi oleh jenis kelamin, umur, kondisi tubuh, variasi harian, dan keadaan stress (Schmidt dan Nelson, 1990). Banyaknya jumlah eritrosit juga disebabkan oleh ukuran sel darah itu sendiri (Schmidt dan Nelson, 1990).  Dallman dan Brown (1992) menyatakan bahwa, hewan yang memiliki sel darah kecil, jumlahnya banyak. Sebaliknya yang ukurannya lebih besar akan mempunyai jumlah yang lebih sedikit. Jumlah sel darah merah yang banyak, juga menunjukkan besarnya aktivitas hewan tersebut. Hewan yang aktif bergerak/beraktivitas akan memiliki eritrosit dalam jumlah yang banyak pula, karena hewan yang aktif akan mengkonsumsi banyak oksigen, dimana eritrosit sendiri mempunyai fungsi sebagai transport oksigen dalam darah.

Jumlah eritrosit sangat bervariasi antara individu yang satu dengan yang lainnya. Jumlah eritrosit dipengaruhi oleh jenis kelamin, umur, kondisi tubuh, variasi harian, dan keadaan stress. Banyaknya jumlah eritrosit juga disebabkan oleh ukuran sel darah itu sendiri (Schmidt dan Nelson, 1990).  Dallman dan Brown (1987) menyatakan bahwa, hewan yang memiliki sel darah kecil, jumlahnya banyak. Sebaliknya yang ukurannya lebih besar akan mempunyai jumlah yang lebih sedikit. Jumlah sel darah merah yang banyak, juga menunjukkan besarnya aktivitas hewan tersebut. Hewan yang aktif bergerak/beraktivitas akan memiliki eritrosit dalam jumlah yang banyak pula, karena hewan yang aktif akan mengkonsumsi banyak oksigen, dimana eritrosit sendiri mempunyai fungsi sebagai transport oksigen dalam darah.

Leukosit dalam darah jumlahnya lebih sedikit daripada eritrosit dengan rasio 1 : 700 (Frandson, 1992). Jumlah leukosit tergantung  jenis  hewannya.  Fluktuasi jumlah leukosit pada tiap individu cukup besar pada kondisi tertentu seperti stres, umur, aktifitas fisiologis dan lainnya. Leukosit berperan penting dalam pertahanan seluler dan  humoral organisme terhadap benda-benda asing.  Jumlah leukosit lebih banyak diproduksi jika kondisi tubuh sedang sakit apabila dalam sirkulasi darah jumlah leukositnya lebih sedikit dibanding dengan eritrositnya (Pearce, 1989). Kimball (1988) menyatakan bahwa, sel darah putih berperan dalam melawan infeksi.

Hewan yang terinfeksi akan mempunyai jumlah leukosit yang banyak, karena leukosit berfungsi melindungi tubuh dari infeksi. Penurunan jumlah leukosit dapat terjadi karena infeksi usus, keracunan bakteri, septicoemia, kehamilan, dan partus. Menurut Soetrisno (1987), jumlah leukosit dipengaruhi oleh kondisi tubuh, stress, kurang makan atau disebabkan oleh faktor lain. Faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah eritrosit dan leukosit yaitu tergantung pada spesies dan kondisi pakannya, selain itu juga bahan organik yang terkandung seperti glukosa, lemak, urea, asam urat, dan lainnya. Umur, kondisi lingkungan dan musim juga sangat mempengaruhi jumlah eritrosit dan leukosit (Pearce, 1989). Menurut Ramesh (2008), turunnya jumlah protein mungkin dapat dijadikan media tambahan untuk menghentikan senyawa agar meningkatkan pemenuhan senyawa energi oleh ikan untuk mengatasi kondisi lingkungan yang tidak terlindungi dari racun.

Haemoglobin merupakan senyawa organik yang kompleks terdiri atas 4 pigmen porfirin merah yang mengandung atom Fe dan globulin yang merupakan protein globuler ( terdiri atas asam 4 amino).  Haemoglobin yang mengikat oksigen disebut oksihaemoglobin (Guyton, 1976).  Haemoglobin bertanggungjawab terhadap transport oksigen dan karbondioksida dalam darah.  Peningkatan kadar haemoglobin akan diikuti oleh peningkatan kadar hematokrit (Soetrisno, 1987).  Hematokrit adalah istilah yang menunjukan besarnya volume sel-sel eritrosit seluruhnya didalam 100 mm3 darah dan dinyatakan dalam persen (%) (Hoffbrand dan Pettit, 1987). Nilai hematokrit atau “volume sel packed” adalah suatu istilah yang artinya prosentase berdasarkan volume dari darah, yang terdiri dari sel-sel darah merah. Mengukur kadar hematokrit darah hewan uji digunakan tabung mikrohematokrit yang berupa pipa kapiler berlapiskan EDTA (Etil Diamin Tetra Acetat) yang berfungsi sebagai bahan anti pembekuan darah. Nilai hematokrit standar adalah sekitar 45%, namun nilai ini dapat berbeda-beda tergantung species. Nilai hematokrit biasanya dianggap sama manfaatnya dengan hitungan sel darah merah total (Frandson, 1992).

Air dapat menjadi perantara bagi penularan bibit penyakit pada budidaya ikan. Apabila air yang digunakan dalam budidaya telah tercemar atau mempunyai kualitas yang tidak memenuhi persyaratan untuk budidaya ikan, maka ikan budidaya tersebut akan terserang bibit penyakit atau parasit yang hidup pada air tersebut. Pada ikan yang terserang penyakit terjadi perubahan ada nilai hematokrit, kadar hemoglobin, jumlah sel darah merah dan jumlah sel darah putih. Pemeriksaan darah (hematologis) dapat digunakan sebagai indikator tingkat keparahan suatu penyakit. Studi hematologis merupakan kriteria penting untuk diagnosis dan penentuan kesehatan  contoh endoparasit yang terdapat pada darah ikan adalah: Trypanosoma sp, Sanguinicola sp, dan Haemogregarina sp (Alamanda, et al., 2007.).


KESIMPULAN

Berdasarkan hasil dan pembahasan di atas dapat disimpulakan bahwa:

  1. Faktor yang mempengaruhi jumlah eritrosit adalah jenis kelamin, umur, kondisi tubuh, variasi harian, aktifitas, spesies, musim dan keadaan stress. Sedangkan faktor yang mempengaruhi jumlah leukosit adalah kondisi tubuh, stress, dan kurang makan.
  2. Jumlah eritrosit pada ikan adalah 1.265.000 mm3, jumlah leukosit pada ikan adalah 14.525 mm3, dan kadar Hb adalah 10 g/dl. Jumlah eritrosit pada ayam adalah 695.000 mm3, jumlah leukosit pada ayam adalah 1400 mm3, dan kadar Hb adalah 8,3 g/dl. Jumlah eritrosit pada mencit adalah 3.885.000 mm3, jumlah leukosit adalah 1650 mm3, dan kadar Hb adalah 7,8 g/dl.
  3. Bentuk sel darah merah ikan yaitu berinti, berbentuk elips dan berwarna merah muda..


DAFTAR REFERENSI

Alamanda, Intan. E, dkk. 2007. Penggunaan Metode Hematologi dan Pengamatan Endoparasit Darah untuk Penetapan Kesehatan Ikan Lele Dumbo (Clariasgariepinus) di Kolam Budidaya Desa Mangkubumen Boyolali. Biodiversitas Vol. 8, No. 1 hal. 34-38. Jurusan Biologi FMIPA Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

Bryon, A. S and S. Doroth. 1973. Text Book of Physiology. St Burst The Moshy Co Toppon Co Ltd. Japan.

Dallman, H. D dan E. M Brown. 1992. Buku Teks Histologi Veteriner I. UI Press. Jakarta.

Dukes, H. 1995. The Physiology of Domestic Animal. Comstock Publishing Associated, New York.

Junqueira, D. 1980. Histologi Dasar. EGC, Jakarta.

Frandson, R. D. 1986. Anatomy and physiology of Farm Animals. Lea and Febiger, Philadelphia.

Frandson, R. D. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak. UGM Press. Yogyakarta

Guyton, A. C. 1976. Text Book of Medical Physiology. W. B. Saunders Company Philadelphia London. Toronto.

Hoffbrand, A. V dan J. E. Pettit. 1987. Haematologi. Penerbit EGC. Jakarta.

Kimball, J.W. 1988. Biologi. Erlangga, Jakarta.

Lagler, F. K, J. E. Bardach, R. R Miller an D. M Passino. 1977. Ichthyology. Jhn Willey and Sons, Canada

Oslon, C. 1973. Aulan Hematology in Riester HE and LH Schwarte. The Lowa State University Press. USA.Pearce, E. C. 1979. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Gramedia. Jakarta.

Pearce, E. 1989. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Ramesh, M. et al, 2008. Haematological and Biochemical Response in a Freshwater Fish Cyprinus carpio Exposed to Chorlpyrifos. International journal of Integrative Biology. India.

Schmidt, W. and Nelson, B. 1990. Animal Physiology. Harper Collins Publisher, New York.

Soetrisno. 1987. Diktat Fisiologi Ternak. Fakultas Peternakan Unsoed, Purwokerto.

KADAL

(Mabouya multifasciata)

I.PENDAHULUAN

A.Latar Belakang

Kadal merupakan organisme reptil yang berjalan dengan melata, memiliki dua pasang kaki dan biasanya dapat kita temui di persawahan ataupun di area perkebunan. Tubuh kadal tertutupi oleh kulit yang kering dengan sisik-sisik zat tanduk dipermukaannya tanpa danya kelenjar-kelenjar lendir. Warna pada kadal dapat berbeda-beda berdasarkan lingkungan atau umur kadal itu sendiri.
Kadal (Mabouya multifasciata) hidup di daerah tanah basah atau lembab. Tubuh kadal terbagi menjadi tiga bagian yaitu kepala (caput) yang terdiri dari mata, lubang hidung dan telingga. Badan (truncus) yang terdiri dari telingga hingga kloaka dan yang terakhir yaitu bagian ekor (cauda) yang memiliki bentuk bulat meruncing ke ujung.
Kadal mempunyai sepasang anggota depan (extrimitas anterior) dan sepasang anggota belakang (extrimitas posterior). Masing-masing terdiri atas lima jari dan kuku-kuku yang cocok untuk berlari, mencengkeram, dan naik ke pohon.
Kadal dipilih sebagai preparat praktikum karena ukuran kadal yang relatif sedang. Struktur anatominya mudah diamati dan dipelajari bagian-bagiannya. Selain itu kadal juga mudah didapat dan harganya relatif terjangkau.

B.Tujuan

Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mempelajari Anatomi Kadal (Mabouya multifasciata ♂).

II.KERANGKA PEMIKIRAN

Hewan pertama yang benar-benar merupakan hewan daratan adalah reptilia. Mereka berkembang dari amphibia dalam zaman karbon. Kelebihan utama reptil yang paling awal (reptil “batang” atau kotilosaurus) terhadap amphibia ialah perkembangan telurnya yang bercangkang dan berisi kuning telur yang dapat diletakkan di tanah tanpa kemungkinan menjadi kering. Cangkangnya selain kedap air juga kedap terhadap sperma. Dengan demikian perkembangan telur yang bercangkang terjadi bersamaan dengan perkembangan fertilisasi internal (Kimball, 1980).
Kadal (Mabouya multifasciata) memiliki kulit yang berwarna, kulit pada kadal ini pada umumnya tertutup oleh lapisan epidermal yang menanduk, kadang-kadang di bagian bawah disokong oleh lapisan-lapisan lamina derminalis yang menulang. Lubang pelepasan selalu berubah celah yang transversal. Kadal ini mempunyai dua anggota badan yang bersifat pentadactil. Memiliki membran tympani yang tidak cembung dan celah auris externa dapat digerakkkan juga membran nictitans (Radiopoetro,1988).
Cervix (collum) pada kadal ini jauh lebih panjang dibandingkan dengan dari classis amphibia. Truncus biasanya panjang dan convex di mana pada bagian dorsalnya berwarna cokelat kekuningan dan bagian ventralnya putih. Pada truncus ini terdapat extrimitas cranialis di sebelah cranio lateral truncus, berjumlah sepasang ke kanan dan ke kiri, terdiri dari brachium (tangan) dengan lima digiti. Extrimitas caudalis terletak di sebelah cauda lateral. Adapun bagian-bagiannya ialah femur (paha), crus (tungkai), pes (kaki) dengan lima digiti. Pada ujung ventrocauda tempatnya pada basis cauda terdapat cloaca bertipe plagiotremata yaitu berupa celah melintang. Celah ini di sebelah cranial ditutupi oleh deretann squamae yang disebut lamina praecloacalis. Cauda (ekor) panjang sekali, hampir dua kali panjang badan kepala. Bagian pangkal tebal, makin ke caudal makin berkurang (Radiopoetro,1988).

III.ALAT, BAHAN, DAN CARA KERJA

A.Alat

Alat-alat yang digunakan adalah bak preparat, pinset, gunting bedah, jarum penusuk.

B.Bahan
Bahan yang digunakana dalah kadal (Mabouya multifasciata ♂), air kran, kloroform.

C.Cara Kerja

Cara kerja praktikum adalah sebagai berikut :
1.Kadal dimatikan dengan jarum penusuk yang ditusukkan pada bagian kepala hingga mengemai pusat syarafnya.
2.Tubuh kadal digunting mulai dari depan kloaka ke sisi kiri kanan tubuh ke arah depan melewati kaki depan sampai ke rahang bawah kemudian kembali lagi ke kloaka.
3.Bagian tubuh yang telah digunting, dikuakan sehingga terlihat bagian situs viscerum.
4.Sistem pencernaan diamati.
5.Sistem reproduksi diamati.
6.Bagian-bagian rongga mulut diamati.

B.Pembahasan

Pengamatan anatomi kadal telah didapatkan hasil bahwa kadal (Mabouya multifasciata) merupakan hewan yang masuk dalam kelas reptilia dan ordo squamata. Tubuh kadal tertutupi oleh kulit yang kering tanpa lendir dengan sisik-sisik zat tanduk dipermukaannya. Tubuh kadal terbagi atas caput (kepala), truncus (badan) dan cauda (ekor). Bentuk kepala kadal pipih dan meruncing ke bagian ujungnya, di bagian kepala terdapat organ-organ seperti sepasang mata, sepasang lubang hidung di ujung moncongnya, dan telinga yang kecil. Menurut Radipoetro (1988), kadal biasanya mempunyai dua pasang anggota badan yang bersifat pentadaktil yaitu anggota depan dan anggota belakang. Membrana tymphani tidak cembung dan celah auris externa jelas dapat dilihat. Palpebra superior dan inferior dapat digerakkan, juga membrana niktitans.
Kadal merupakan hewan berkaki empat yang banyak hidup di alam bebas. Umumnya memiliki warna antara kuning hingga coklat, warna ini sesuai denganumur dan juga pengaruh lingkungan hidupnya. Hal ini sesuai dengan pernyataan Djuhanda (1984) yang menyatakan kadal merupakan reptil yang berkaki empat, dengan panjang berkisar antara lima sampai empat puluh centimeter. Kebanyakan hidup di pepohonan. Umumnya berkulit mengkilap dan mempunyai warna kehijauan sampai coklat.
Sistem klasifikasi kadal (Mabouya multifasciata) menurut Radiopoetro (1988) adalah sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Sub phylum : Vertebrata
Classis : Reptilia
Sub ordo : Squamata
Familia : Latertilia
Genus : Mabouya
Spesies : Mabouya multifasciata
Ciri-ciri khusus dari kadal yaitu terdapat zat tanduk di sepanjang permukaan tubuhnya, mempunyai cauda atau ekor, jantungnya terdiri dari dua atrium dan ventriculus. Kadal mempunyai dua pasang anggota badan yang bersifat pentadectil yaitu extrimitas anterior dan extrimitas posterior (Brotowidjojo, 1995).
Sistem pencernaan kadal meliputi cavum oris, pharynx, oesophagus, gastrum, intestinum dan cloaca. Lidah dijulurkan keluar untuk menangkap mangsa, giginya melekat pada rahang. Dari cavum oris dilanjutkan ke pharynx, oesophagus dan gastrum atau lambung. Dari lambung kemudian ke intestin, rectum dan cloaca. Cloaca merupakan muara tiga saluran yaitu tempat mengeluarkan sisa pencernaan, sekret, dan untuk reproduksi (Brotowidjojo, 1995).
Kadal bernafas dengan paru-paru. Pada sistem pernafasannya dapat dijumpai tulang tipis yang berlipat-lipat dinamakan tulang turbinal. Dimulai dari rima glotis, larynx, trachea, annulus trachealis (trachea yang tersusun dari cincin tulang rawan), broncus, bronciolus, bifurcatio trachea (percabangan trachea) dan sepasang pulmo atau paru-paru (Radiopoetro, 1988).
Menurut Radiopoetro (1988), tubuh kadal terdiri dari caput, truncus, dan caudal. Caput memiliki bentuk agak pyramidal meruncing ke arah posterior lateral dan memipih dalam arah dorsal ventral. Rima oris kadal di batasi oleh palpebra superior dan palpebra inferior yang dapat digerakkan.
Menurut Brotowidjojo (1995) tubuh kadal terletak lateral. Kakinya dapat digunakan untuk memanjat. Mandibula bersatu dengan anterior, kelopak mata dapat digerakkan. Sabuk pektoral dapat berkembang biak, gendang telingga dapat dilihat dari luar, ekor dapat digerakkan dan berfungsi sebagai alat keseimbangan, dengan kulit yang tertutup yang tersusun seperti genting dan lunak.
Paru-paru kadal sudah berkembang dengan baik dan ukurannya cukup besar. Sistem pencernaan kadal terdiri dari tenggorokan yang panjang dan lambung yang sederhana. Jantung kadal memanjang dan berwrna merah tua di depannya terlihat batang trachea, dan jantung ini memiliki tiga ruang yaitu, 2 antrium dan ventrikel (Djuhanda,1984).
Sistem sirkulasi pada kadal berupa jantung yang memperlihatkan kemajuaan bila dibandingkan dengan jantung amphibi, meskipun aliran darah arteri dan vena tidak seluruhnya terpisah. Jantung terbungkus oleh sutu membran transparan yaitu pericandrium (Parker dan Haswell, 1962).
Lidah kadal dapat begitu ramping ataupunn bebas melebar, taringnya ada bersama gerigi. Biasanya besar dan sama pendek. Kotoran kadal bentuknya setengah padat seperti burung, dikeluarkan melalui kloaka sebagai materi yang berwarna putih dan disebut sebagai feses (Storer, 1957).

V. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil dan pembahasan sebelumnya dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1.Kadal (Mabouya multifasciata) masuk dalam ordo squamata.
2.Tubuh kadal terdiri dari caput (kepala), truncus (badan), cauda (ekor), anggota depan (extrimitas anterior) dan anggota belakang (extrimitas posterior).
3.Ciri-ciri kadal (Mabouya multifasciata) antara lain yaitu hidup di darat, tubuhnya tertutup oleh sisik (bercarapace) atau kulit kering yang menanduk (kasap), memiliki ekor dan bernafas dengan paru-paru.
4.Kadal melakukan fertilisasi secara internal yaitu pembuahan di dalam tubuh.

DAFTAR REFERENSI

Brotowidjojo, M. D. 1995. Zoologi Dasar. Erlangga, Jakarta.
Djuhanda, T. 1984. Pengantar Anatomi Perbandingan Vertebrata I.Armico, Bandung.

Kimball, John W. 1980. Biologi Jilid 2. Erlangga : Jakarta.
Parker, T. J. and Haswell.1962. Textbook of Zoology Volume II. Mac Millan and Co. Ltd : Hongkong.

Radiopoetro. 1988. Zoologi.Erlangga, Jakarta.
Storer, T. I. 1957. General Zoology. Kagashusa Company LTD : Tokyo.

TUGAS TERSTRUKTUR
STRUKTUR DAN PERKEMBANGAN TUMBUHAN I

DESKRIPSI
PINANG
(Pinanga kuhlii)

Oleh :

Ratna Mega Dwi Pangestuti
B1J008136

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2009

Nama spesies : Pinanga kuhlii
Nama lokal : Pinang
Familia : Arecaceae
Lokasi : FKIK
Nomor :
Tanggal : 21 Mei 2009

DESKRIPSI

Habitus berbentuk rumpun dan tumbuhnya berkelompok, tinggi 400 cm – 800 cm. Tumbuhnya membentuk rumpun. Daun majemuk, terdiri dari pelepah (vagina), tangkai (petiolus), helaian (lamina), ibu tangkai daun (petiololus). Panjang upih (vagina) kurang lebih 5cm, panjang tangkai (petiolus) lebih dari 60 cm, warna coklat kemerah-merahan, panjang helaian (lamina) 30 – 50 cm, lebar helaian (lamina) kurang lebih 1 – 3 cm,pelepah daunnya berbentuk seludang yang membungkus batangnya dan persegi panjang, pelepahnya tidak berduri, dan daunnya berbentuk sirip : sifat daun : bentuk daun (cicum scriptio) Sirip (pinnatus), pangkal daun (basis folii) Cuneatus , tepi daun (margo folii) Rata (integer), ujung daun (apex folii) Lancip/runcing (acutus), tulang daun (nervatio) Sejajar (rectinervis), daging daun Tipis keras (Perkamentus), pemukaan daun Bersisik (Lepidus), warna daun Hijau, Berpelepah persegi panjang, anak-anak daunnya lebar, susunan daunnya sejajar.
Diameter batang hingga 15 cm, batang ramping, permukaan batang Berusuk (costatus) , bentuk batang Berbuku-buku dan bentuk penampang melintangnya bulat (teres) tipe batang Tumbuh di atas tanah (caulis) ,arah tumbuh batang tegak lurus (erectus), percabangan batang monopodial, jarak antara ruas batang 7 cm lebih, warna batang coklat lumut, namun tidak jelas terdapat adanya alat tambahan karena referensi yang mengenai hal tersebut kurang.
Sistem perakaran akar serabut (radix adviticia), bentuk akar lutut, bagian-bagian akar pangkal/leher akar, ujung akar, dan batang akar, alat tambahan akar / fungsi lain akar pelekat (radix adligans).
Letak bunga tandan (racemus), Berbunga pada awal dan akhir musim hujan, Seludang perbungaan yang menyelubungi perbungaan pada mulanya diliputi oleh pelepah daun yang mendukungnya. Tujuh sampai sepuluh hari sesudah daun yang bersangkutan gugur, seludang perbungaan memecah secara longitudinal pada bagian adaksial, kemudian gugur. tipe bunga karangan semu,bentuk karangan bunga malai (panicula). Binga Pinang hutan berbentuk bulir (spica) dengan panjang antara 15-30 cm yang terdiri dari 15-35 anak bulir. Bunga – bunga tersebut tersusun dalam dua deretan pada anak bulir. Simetris bunga setangkup tunggal, bagian – bagian bunga anak bulir, tangkai karangan bunga, ibu tangakai, tangkai bunga, dan bunga. kelamin bunga bunga berkelamin dua, letak bagian-bagian bunga Bunga-bunga jantan terdapat dalam dua baris sepanjang rakhila yang dapat merupakan bagian distal cabang yang bebas. Bunga-bunga betina terdapat pada cabang yang pendek di bagian basal rakhila jantan. panjang tangkai bunga kurang lebih 15-30 cm ; Bentuk kelopak (calyx) bulat, penjang kelopak kurang lebih 1 cm, wana kelopak hijau muda, jumlah daun kelopak (sepal) Bunga jantan memiliki 3 sepal dan tersusun valvatus, androesium dibentuk oleh sebuah lingkaran luar yang terdiri dari 3 stamen antesepal dan lingkaran dalam yang terdiri dari 3 stamen antepetal, dan ginoesium terdiri dari 3 pistilodium., keadaan daun kelopak menutupi bagian atas buah; Bentuk mahkota (corolla) tumpang tindih dam membentuk bulatan, jumlah lingkaran mahkota 3-4 buah., panjang mahkota, , warna mahkota putih, jumlah daun mahkota (petal) 3 petal pada bunga jantan yang tersusun secara valvatus dan pada bunga betina terdapat 3 petal yang tersusun imbricatus, keadaan daun mahkota berdekatan; Jumlah stamen Bunga jantan 6 stamen dan bunga betina tidak memiliki stamen, panjang stamen bunga jantan 2 cm, warna stamen kuning, bagian-bagian stamen 3 stamen antesepal dan lingkaran dalam yang terdiri dari 3 stamen antepetal, dan ginoesium terdiri dari 3 pistilodium. Bentuk kepala sari (anthera) bulat lonjong, letak kepala sari di atas putik.; Panjang putik kurang lebih 0,5 cm, warna putik putih bagan-bagian putik tidak begitu jelas karena referensi yang ada tidak menyertakan mengenai hal tersebut, panjang tangkai putik (stylus) kurang lebih 1 cm, jumlah kepala putik (stigma) 10 buah, warna kepala putik putih susu, letak bakal buah (ovarium) di dalam buah, alat tambahan pada bunga tidak terdapat.
Tipe buah buah sejati tunggal, Buah berkecambah setelah 1,5 bulan dan sesudah
4 bulan kemudian mempunyai jambul daun-daun kecil yang belum membuka bentuk buah elips dengan ujung buah runcing, panjang 0,09 – 0,13 cm., lebar 0,1 cm, warna hijau muda pada waktu masih muda dan berubah menjadi merah apabila sudah tua, permukaan buah halus, bagian-bagian buah bakal buah, biji, mesocarpium (serabut) yang melindungi buah,dan terdapat kulit yang berkayu dan keras, alat tambahan pada buah micropili, untuk keluar masuk air.
Bentuk biji bulat, jumlah biji 1 per buah, namun bentuknya seperti buah belimbing, panjang 0,3 cm, lebar 0,1.cm, warna biji putih., permukaan biji kasar, bagian-bagian biji mesocarpium (serabut), kulit biji yang keras.
Habitat menyukai tempat yang sejuk atau kadang – kadang tumbuh di hutan jati dan tidak tumbuh pada tanah berbatu, sebaran kebanyakan terletak di Jawa dan Sumatera, ketinggian tempat Tumbuh di ketinggian hingga 1400 m diatas permukaan laut, musim berbunga dan musim berbuah antara bulan Mei sampai Juni.

MANFAAT DAN INFORMASI LAIN
Pinanga kuhlii
(Pinang Hutan)

MANFAAT
BUAH
Buahnya boleh digunakan untuk pengobatan.
Buah pinang muda dikunyah dan airnya ditelan untuk mengubati darah dalam air kencing.
Obat gigi.
Obat luka.
Mentembuhkan kudis, difteri, banyak darah ketika haid, hidung berdarah atau sariawan, mencret, koreng dan borok.
Konon, buah pinang sirih muda dapat meningkatkan gairah seksual sehingga tidak mengherankan kalau buah ini biasa dipakai pada saat acara sacral atau ritual.
Jus pinang muda digunakan sebagai ubat luar untuk rabun bila dititik pada kornea.
ditelan untuk demam, histeria, disenteri (cirit berdarah) dan pirai.

BIJI
Digunakan sebagai obat cacing.
Obat eksim
Obat gigi.
ABU PINANG
Digunakan untuk membersihkan gigi, namun apabila terlalu banyak pemakaiannya akan merontokkan gigi.
AKAR DAN SABUT PINANG
Untuk disentri (cirit berdarah).
Akar untuk membanyakkan urine dan mengobati sakit perut
SERBUK DAN EKSTRAK PINANG
bersama daun Atalantia dan limau digunakan untuk sakit perut.
pinang boleh membuang cacing gelang dan cacing kerawit
Ekstrak pinang didapati menghasilkan barah bila diletak pada selaput lendir hamster.

INFORMASI LAIN
Pinang selain sebagai obat-obatan digunakan juga sebagai tanaman hias. Pinang juga memiliki nilai ekspor besar karena begitu banyak manfaatnya dari setiap bagiannya. Semasa kecil tanaman ini sesuai dijadikan pokok hiasan dalam rumah. Apabila sudah besar, indah bila ditanam di luar. Komposisi Pinang mengandung lebih kurang 15% tanin merah dan 14% lemak. Tanin dalam pinang digunakan untuk merawat cirit-birit. Campuran pinang bersama bahan-bahan lain digunakan untuk kayap.

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous. 2005. PINANG, URL : http://en wikipedia.org/wiki/ Asplenium nidus.

__________. 2004. http: iptek.net.id./ind/pd-lipi/view.php.
Sastrapradja, setijati. 1987. Palem Indonesia. BOGOR: Lembaga Biologi Nasional – LIPI
Lutony, tony luqman. 1992. Pinang Sirih. Bandung: Penerbit Kanisius
Siregar, Edy Batara Mulya. 2005. POTENSI PALEM INDONESIA. URL : http:// google/usu.ac.id/repository

Posted: December 19, 2008 in POEM

CINTA adalah kata yang sangat TERBATAS

tapi…

Mengungkapkan sesuatu yang TAK TERBATAS

CINTA tumbuhbukan karena menemukan seseorang yang SEMPURNA

tapi…

KEMAMPUAN untuk MENERIMA orang itu secara SEMPURNA ….

VOLUMETRI

Posted: December 19, 2008 in ARTIKEL

Titrasi merupakan suatu metoda untuk menentukan kadar suatu zat dengan menggunakan zat lain yang sudah dikethaui konsentrasinya. Titrasi biasanya dibedakan berdasarkan jenis reaksi yang terlibat di dalam proses titrasi, sebagai contoh bila melibatan reaksi asam basa maka disebut sebagai titrasi asam basa, titrasi redox untuk titrasi yang melibatkan reaksi reduksi oksidasi, titrasi kompleksometri untuk titrasi yang melibatan pembentukan reaksi kompleks dan lain sebagainya. (disini hanya dibahas tentang titrasi asam basa).

Zat yang akan ditentukan kadarnya disebut sebagai “titrant” dan biasanya diletakan di dalam Erlenmeyer, sedangkan zat yang telah diketahui konsentrasinya disebut sebagai “titer” dan biasanya diletakkan di dalam “buret”. Baik titer maupun titrant biasanya berupa larutan.

Prinsip Titrasi Asam basa

Titrasi asam basa melibatkan asam maupun basa sebagai titer ataupun titrant. Titrasi asam basa berdasarkan reaksi penetralan. Kadar larutan asam ditentukan dengan menggunakan larutan basa dan sebaliknya.

Titrant ditambahkan titer sedikit demi sedikit sampai mencapai keadaan ekuivalen ( artinya secara stoikiometri titrant dan titer tepat habis bereaksi). Keadaan ini disebut sebagai “titik ekuivalen”.

Pada saat titik ekuivalent ini maka proses titrasi dihentikan, kemudian kita mencatat volume titer yang diperlukan untuk mencapai keadaan tersebut. Dengan menggunakan data volume titrant, volume dan konsentrasi titer maka kita bisa menghitung kadar titrant.

Cara Mengetahui Titik Ekuivalen

Ada dua cara umum untuk menentukan titik ekuivalen pada titrasi asam basa.

1. Memakai pH meter untuk memonitor perubahan pH selama titrasi dilakukan, kemudian membuat plot antara pH dengan volume titrant untuk memperoleh kurva titrasi. Titik tengah dari kurva titrasi tersebut adalah “titik ekuivalent”.

2. Memakai indicator asam basa. Indikator ditambahkan pada titrant sebelum proses titrasi dilakukan. Indikator ini akan berubah warna ketika titik ekuivalen terjadi, pada saat inilah titrasi kita hentikan.

Pada umumnya cara kedua dipilih disebabkan kemudahan pengamatan, tidak diperlukan alat tambahan, dan sangat praktis.

Indikator yang dipakai dalam titrasi asam basa adalah indicator yang perbahan warnanya dipengaruhi oleh pH. Penambahan indicator diusahakan sesedikit mungkin dan umumnya adalah dua hingga tiga tetes.

Untuk memperoleh ketepatan hasil titrasi maka titik akhir titrasi dipilih sedekat mungkin dengan titik equivalent, hal ini dapat dilakukan dengan memilih indicator yang tepat dan sesuai dengan titrasi yang akan dilakukan.

Keadaan dimana titrasi dihentikan dengan cara melihat perubahan warna indicator disebut sebagai “titik akhir titrasi”.

Larutan baku (standar) adalah larutan yang telah diketahui konsentrasinya secara teliti, dan konsentrasinya biasa dinyatakan dalam satuan N (normalitas) atau M (molaritas).

Indikator adalah zat yang ditambahkan untuk menunjukkan titik akhir titrasi telah di capai. Umumnya indicator yang digunakan adalah indicator azo dengan warna yang spesifik pada berbagai perubahan pH.

Titik Ekuivalen adalah titik dimana terjadi kesetaraan reaksi secara stokiometri antara zat yang dianalisis dan larutan standar.

Titik akhir titrasi adalah titik dimana terjadi perubahan warna pada indicator yang menunjukkan titik ekuivalen reaksi antara zat yyang dianalisis dan larutan standar.

Pada umumnya, titik ekuivalen lebih dahulu dicapai lalu diteruskan dengan titik akhir titrasi. Ketelitian dalam penentuan titik akhir titrasi sangat mempengaruhi hasil analisis pada suatu senyawa.

Syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk dapat dilakukan analisis volumetric adalah sebagai berikut :

1. Reaksinya harus berlangsung sangat cepat.

2. Reaksinya harus sederhana serta dapat dinyatakan dengan persamaan reaksi yang kuantitatif/stokiometrik.

3. Harus ada perubahan yang terlihat pada saat titik ekuivalen tercapai, baik secara kimia maupun secara fisika.

4. Harus ada indicator jika reaksi tidak menunjukkan perubahan kimia atau fisika. Indikator potensiometrik dapat pula digunakan.

Alat-alat yang digunakan pada analisa titrimetri ini adalah sebagai berikut :

1. Alat pengukur volume kuantitatif seperti buret, labu tentukur, dan pipet volume yang telah di kalibrasi.

2. Larutan standar yang telah diketahui konsentrasinya secara teliti atau baku primer dan sekunder dengan kemurnian tinggi.

3. Indikator atau alat lain yang dapat menunjukkan titik akhir titrasi telah di capai.

Baku primer adalah bahan dengan kemurnian tinggi yang digunakan untuk membakukan larutan standar misalnya arsen trioksida pada pembakuan larutan iodium.

Baku sekunder adalah bahan yang telah dibakukan sebelumnya oleh baku primer, dan kemudian digunakan untuk membakukan larutan standar, misalnya larutan natrium tiosulfat pada pembakuan larutan iodium