PENGUKURAN HEMATOLOGI

Posted: December 24, 2009 in Uncategorized

PENGUKURAN HEMATOLOGI HEWAN

Oleh:

Nama                 :    Ratna Mega Dwi Pangestuti

NIM                    :    B1J008136

Rombongan      :    V

Kelompok         :    1

Asisten              :    Nailil Fitri

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN I

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

FAKULTAS BIOLOGI

PURWOKERTO

2009

HASIL DAN PEMBAHASAN

  1. A. Hasil

Tabel Data Penghitungan Hematologi Darah Rombongan V

Hewan ∑ Eritrosit

(mm3)

∑ Leukosit

(mm3)

Kadar Hb Angka Hematokrit
Ikan 1.265.000 14525 10 mg/dl 17% , 26 %
Ayam 695.000 1400 8,3 mg/dl 32% , 31%
Mencit 3.885.000 1650 7,8 mg/dl 63% , 68%

Perhitungan :

Preparat Ikan

Haemoglobin = 10 mg/dl

∑ Eritrosit  per mm3 =  E/80 x 4000 x 100

= 5000 x E

=  5000 x (18 + 17 + 20 + 29 + 32)

=  535.000 sel / mm3

∑ Leukosit  per mm3 = 1/64 x 160 x 10

=  25 x L

=  25 x (181 + 200 + 307 + 261)

=  23.725 sel / mm3


B. Pembahasan

Berdasarkan praktikum, penentuan hematokrit dilakukan dengan mengisi tabung hematokrit dengan darah yang sebelumnya telah diberi zat EDTA (natrium ethylen diamin tetra acetic acid) yang berfungsi mencegah penggumpalan darah. Sebelum penghitungan jumlah leukosit, darah diberi larutan Turk yang berfungsi untuk mengencerkan sel darah putih. Sedangkan untuk menghitung jumlah eritrosit, darah diberi larutan Hayem yang berfungsi mengencerkan sel darah merah. Jumlah eritrosit pada ikan yang didapat dari praktikum sebesar 1.265.000 mm3, ini tidak sesuai dengan pustaka karena menurut Oslon (1973), jumlah eritrosit pada ikan adalah 50.000 – 3.000.000 sel / mm3. Jumlah eritrosit ayam yang didapat 695.000 mm3 sedangkan pada ayam betina adalah 2,72 juta sel / mm3 dan pada ayam jantan adalah 3,23 juta sel/mm3. Jumlah leukosit yang didapatkan yaitu 1400 sel/mm3. Jumlah leukosit pada ayam berkisar antara 16.000 – 40.000 sel / mm3 ( Dukes, 1995). Sedangkan pada sel darah ikan 20.000 – 150.000 sel / mm3 (Moyle and Cech, 2001).  Banyaknya sel darah dari hasil praktikum tidak sesuai dengan pustaka, hal ini karena terlalu banyaknya larutan pengencer yang diberikan dan kurangnya ketelitian dalam menghitung jumlah selnya. Jumlah eritrosit menurut Jangueira dan Canneira (1980) adalah antara 50.000-3.000.000 per mm³. Berdasarkan hasil praktikum diperoleh jumlah eritrosit pada ikan adalah sebanyak 1.265.000 sel/mm3. Hal ini menunjukan bahwa ikan dalam percobaan masih dalam keadaan normal. Jumlah leukosit pada ikan didapat sebanyak 14525 sel/mm3, sedangkan menurut Lagler et al. (1977) jumlah leukosit ikan umumnya adalah berkisar antara 20.000-150.000 per mm³. Hal ini menunjukan bahwa ikan yang digunakan dalam praktikum kemungkinan dalam keadaan stress.

Darah adalah matrik cairan dan merupakan jaringan pengikat terspesialisasi yang dibentuk dari sel-sel bebas (Bryon and Doroth, 1973). Darah terdiri dari komponen cair yang disebut plasma dan berbagai unsur yang dibawa dalam plasma yaitu sel-sel darah. Sel-sel darah terdiri dari eritrosit atau sel darah merah, yaitu sel yang mengangkut oksigen, leukosit atau sel darah putih yaitu sel yang berperan dalam kekebalan dan pertahanan tubuh dan trombosit yaitu sel yang berperan dalam homeostasis (Frandson, 1986). Eritrosit mempunyai peran sebagai media transport. Sedangkan leukosit berfungsi sebagai alat pertahanan tubuh sehingga memiliki sifat menembus jaringan tanpa merusak jaringan tersebut (Pearce, 1989). Transport oksigen dalam darah tergantung pada komponen besi dalam pigmen respirasi biasanya haemoglobin. Haemoglobin merupakan bagian dari sel darah merah yang mengikat oksigen. Darah terdiri atas sel-sel dan fragmen-fragmen sel yang terdapat secara bebas dalam medium yang bersifat cair yang disebut plasma darah. Sel-sel dari fragmen sel merupakan unsur darah yang disebut unsur jadi. Sel ini berukuran cukup besar sehingga dapat diamati dengan mikroskop biasa. Plasma darah merupakan bagian yang cair dari darah yang terdiri dari 99 % air dan 8-9 % protein (Kimball, 1988). Darah sangat penting bagi organisme, jika kekurangan atau kelebihan sel darah mengakibatkan tidak normalnya proses fisiologis suatu organisme sehingga menimbulkan suatu penyakit (Pearce, 1989).

Eritrosit merupakan tipe sel darah yang jumlahnya paling banyak dalam darah.  Sebagian besar vertebrata mempunyai eritrosit berbentuk lonjong dan berinti kecuali mamalia (Guyton, 1976).  Eritrosit berbentuk elips, pipih dan bernukleus yang berisi pigmen-pigmen pernafasan yang berwarna kuning hingga merah, yang disebut haemoglobin  yang berfungsi mengangkut oksigen (Frandson, 1992). Jumlah eritrosit sangat bervariasi antara individu yang satu dengan yang lainnya. Jumlah eritrosit diperbanyak apabila terjadi perubahan dan atau pada waktu berada di daerah tinggi dengan tujuan menormalkan pengangkutan O2 ke jaringan (Sugiri, 1988). Jumlah eritrosit dipengaruhi oleh jenis kelamin, umur, kondisi tubuh, variasi harian, dan keadaan stress (Schmidt dan Nelson, 1990). Banyaknya jumlah eritrosit juga disebabkan oleh ukuran sel darah itu sendiri (Schmidt dan Nelson, 1990).  Dallman dan Brown (1992) menyatakan bahwa, hewan yang memiliki sel darah kecil, jumlahnya banyak. Sebaliknya yang ukurannya lebih besar akan mempunyai jumlah yang lebih sedikit. Jumlah sel darah merah yang banyak, juga menunjukkan besarnya aktivitas hewan tersebut. Hewan yang aktif bergerak/beraktivitas akan memiliki eritrosit dalam jumlah yang banyak pula, karena hewan yang aktif akan mengkonsumsi banyak oksigen, dimana eritrosit sendiri mempunyai fungsi sebagai transport oksigen dalam darah.

Jumlah eritrosit sangat bervariasi antara individu yang satu dengan yang lainnya. Jumlah eritrosit dipengaruhi oleh jenis kelamin, umur, kondisi tubuh, variasi harian, dan keadaan stress. Banyaknya jumlah eritrosit juga disebabkan oleh ukuran sel darah itu sendiri (Schmidt dan Nelson, 1990).  Dallman dan Brown (1987) menyatakan bahwa, hewan yang memiliki sel darah kecil, jumlahnya banyak. Sebaliknya yang ukurannya lebih besar akan mempunyai jumlah yang lebih sedikit. Jumlah sel darah merah yang banyak, juga menunjukkan besarnya aktivitas hewan tersebut. Hewan yang aktif bergerak/beraktivitas akan memiliki eritrosit dalam jumlah yang banyak pula, karena hewan yang aktif akan mengkonsumsi banyak oksigen, dimana eritrosit sendiri mempunyai fungsi sebagai transport oksigen dalam darah.

Leukosit dalam darah jumlahnya lebih sedikit daripada eritrosit dengan rasio 1 : 700 (Frandson, 1992). Jumlah leukosit tergantung  jenis  hewannya.  Fluktuasi jumlah leukosit pada tiap individu cukup besar pada kondisi tertentu seperti stres, umur, aktifitas fisiologis dan lainnya. Leukosit berperan penting dalam pertahanan seluler dan  humoral organisme terhadap benda-benda asing.  Jumlah leukosit lebih banyak diproduksi jika kondisi tubuh sedang sakit apabila dalam sirkulasi darah jumlah leukositnya lebih sedikit dibanding dengan eritrositnya (Pearce, 1989). Kimball (1988) menyatakan bahwa, sel darah putih berperan dalam melawan infeksi.

Hewan yang terinfeksi akan mempunyai jumlah leukosit yang banyak, karena leukosit berfungsi melindungi tubuh dari infeksi. Penurunan jumlah leukosit dapat terjadi karena infeksi usus, keracunan bakteri, septicoemia, kehamilan, dan partus. Menurut Soetrisno (1987), jumlah leukosit dipengaruhi oleh kondisi tubuh, stress, kurang makan atau disebabkan oleh faktor lain. Faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah eritrosit dan leukosit yaitu tergantung pada spesies dan kondisi pakannya, selain itu juga bahan organik yang terkandung seperti glukosa, lemak, urea, asam urat, dan lainnya. Umur, kondisi lingkungan dan musim juga sangat mempengaruhi jumlah eritrosit dan leukosit (Pearce, 1989). Menurut Ramesh (2008), turunnya jumlah protein mungkin dapat dijadikan media tambahan untuk menghentikan senyawa agar meningkatkan pemenuhan senyawa energi oleh ikan untuk mengatasi kondisi lingkungan yang tidak terlindungi dari racun.

Haemoglobin merupakan senyawa organik yang kompleks terdiri atas 4 pigmen porfirin merah yang mengandung atom Fe dan globulin yang merupakan protein globuler ( terdiri atas asam 4 amino).  Haemoglobin yang mengikat oksigen disebut oksihaemoglobin (Guyton, 1976).  Haemoglobin bertanggungjawab terhadap transport oksigen dan karbondioksida dalam darah.  Peningkatan kadar haemoglobin akan diikuti oleh peningkatan kadar hematokrit (Soetrisno, 1987).  Hematokrit adalah istilah yang menunjukan besarnya volume sel-sel eritrosit seluruhnya didalam 100 mm3 darah dan dinyatakan dalam persen (%) (Hoffbrand dan Pettit, 1987). Nilai hematokrit atau “volume sel packed” adalah suatu istilah yang artinya prosentase berdasarkan volume dari darah, yang terdiri dari sel-sel darah merah. Mengukur kadar hematokrit darah hewan uji digunakan tabung mikrohematokrit yang berupa pipa kapiler berlapiskan EDTA (Etil Diamin Tetra Acetat) yang berfungsi sebagai bahan anti pembekuan darah. Nilai hematokrit standar adalah sekitar 45%, namun nilai ini dapat berbeda-beda tergantung species. Nilai hematokrit biasanya dianggap sama manfaatnya dengan hitungan sel darah merah total (Frandson, 1992).

Air dapat menjadi perantara bagi penularan bibit penyakit pada budidaya ikan. Apabila air yang digunakan dalam budidaya telah tercemar atau mempunyai kualitas yang tidak memenuhi persyaratan untuk budidaya ikan, maka ikan budidaya tersebut akan terserang bibit penyakit atau parasit yang hidup pada air tersebut. Pada ikan yang terserang penyakit terjadi perubahan ada nilai hematokrit, kadar hemoglobin, jumlah sel darah merah dan jumlah sel darah putih. Pemeriksaan darah (hematologis) dapat digunakan sebagai indikator tingkat keparahan suatu penyakit. Studi hematologis merupakan kriteria penting untuk diagnosis dan penentuan kesehatan  contoh endoparasit yang terdapat pada darah ikan adalah: Trypanosoma sp, Sanguinicola sp, dan Haemogregarina sp (Alamanda, et al., 2007.).


KESIMPULAN

Berdasarkan hasil dan pembahasan di atas dapat disimpulakan bahwa:

  1. Faktor yang mempengaruhi jumlah eritrosit adalah jenis kelamin, umur, kondisi tubuh, variasi harian, aktifitas, spesies, musim dan keadaan stress. Sedangkan faktor yang mempengaruhi jumlah leukosit adalah kondisi tubuh, stress, dan kurang makan.
  2. Jumlah eritrosit pada ikan adalah 1.265.000 mm3, jumlah leukosit pada ikan adalah 14.525 mm3, dan kadar Hb adalah 10 g/dl. Jumlah eritrosit pada ayam adalah 695.000 mm3, jumlah leukosit pada ayam adalah 1400 mm3, dan kadar Hb adalah 8,3 g/dl. Jumlah eritrosit pada mencit adalah 3.885.000 mm3, jumlah leukosit adalah 1650 mm3, dan kadar Hb adalah 7,8 g/dl.
  3. Bentuk sel darah merah ikan yaitu berinti, berbentuk elips dan berwarna merah muda..


DAFTAR REFERENSI

Alamanda, Intan. E, dkk. 2007. Penggunaan Metode Hematologi dan Pengamatan Endoparasit Darah untuk Penetapan Kesehatan Ikan Lele Dumbo (Clariasgariepinus) di Kolam Budidaya Desa Mangkubumen Boyolali. Biodiversitas Vol. 8, No. 1 hal. 34-38. Jurusan Biologi FMIPA Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

Bryon, A. S and S. Doroth. 1973. Text Book of Physiology. St Burst The Moshy Co Toppon Co Ltd. Japan.

Dallman, H. D dan E. M Brown. 1992. Buku Teks Histologi Veteriner I. UI Press. Jakarta.

Dukes, H. 1995. The Physiology of Domestic Animal. Comstock Publishing Associated, New York.

Junqueira, D. 1980. Histologi Dasar. EGC, Jakarta.

Frandson, R. D. 1986. Anatomy and physiology of Farm Animals. Lea and Febiger, Philadelphia.

Frandson, R. D. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak. UGM Press. Yogyakarta

Guyton, A. C. 1976. Text Book of Medical Physiology. W. B. Saunders Company Philadelphia London. Toronto.

Hoffbrand, A. V dan J. E. Pettit. 1987. Haematologi. Penerbit EGC. Jakarta.

Kimball, J.W. 1988. Biologi. Erlangga, Jakarta.

Lagler, F. K, J. E. Bardach, R. R Miller an D. M Passino. 1977. Ichthyology. Jhn Willey and Sons, Canada

Oslon, C. 1973. Aulan Hematology in Riester HE and LH Schwarte. The Lowa State University Press. USA.Pearce, E. C. 1979. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Gramedia. Jakarta.

Pearce, E. 1989. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Ramesh, M. et al, 2008. Haematological and Biochemical Response in a Freshwater Fish Cyprinus carpio Exposed to Chorlpyrifos. International journal of Integrative Biology. India.

Schmidt, W. and Nelson, B. 1990. Animal Physiology. Harper Collins Publisher, New York.

Soetrisno. 1987. Diktat Fisiologi Ternak. Fakultas Peternakan Unsoed, Purwokerto.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s